“Distribusi yang kuat dan merata adalah kunci stabilitas harga. ID FOOD perlu memperkuat jaringan logistik nasional agar bahan pangan bisa sampai ke pelosok dengan kualitas terjaga dan harga terkendali,” ujarnya.
Sorotan penting lainnya adalah peran koperasi desa. Nevi mendorong agar koperasi tidak hanya diposisikan sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai mitra strategis ID FOOD dalam rantai pasok dan distribusi. Dengan dukungan sistem, pelatihan, dan akses pasokan, koperasi desa dinilai mampu memperpendek rantai distribusi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Koperasi desa harus masuk dalam skema besar distribusi pangan nasional. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal kedaulatan pangan yang berbasis kerakyatan,” tambahnya.
Nevi juga menekankan pentingnya roadmap hilirisasi pangan yang realistis, tata kelola perusahaan yang transparan, serta penguatan peran ID FOOD sebagai stabilisator harga di pasar domestik. Menurutnya, keberhasilan transformasi ID FOOD akan sangat menentukan keberhasilan negara dalam menjaga ketahanan pangan di tengah dinamika global.
Dengan arah transformasi yang tepat, Nevi optimistis ID FOOD dapat menjadi lokomotif yang menghubungkan produksi lokal, distribusi nasional, dan penguatan ekonomi desa melalui koperasi—sebuah model yang tidak hanya efisien, tetapi juga berkeadilan.(Ridwan)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












