Capaian Global Terrorism Index 2026 Lahirkan Stabilitas Relatif dari Kolaborasi Densus 88-BNPT

Otonominews
Capaian Global Terrorism Index 2026 Lahirkan Stabilitas Relatif dari Kolaborasi Densus 88-BNPT
Tokoh Toleransi Indonesia, Ir. R. Haidar Alwi, MT.
120x600
a

Laporan GTI 2026 menunjukkan bahwa radikalisasi global mengalami percepatan signifikan, terutama di kalangan pemuda, dengan 42% investigasi terkait terorisme di Eropa dan Amerika Utara melibatkan individu usia muda, serta proses radikalisasi yang kini dapat terjadi hanya dalam hitungan minggu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ancaman terorisme tidak lagi bergantung pada struktur organisasi besar, melainkan semakin bergeser ke arah individu atau sel kecil yang terhubung secara longgar.

Dalam konteks Indonesia, peran BNPT menjadi krusial untuk menekan potensi reproduksi pelaku melalui intervensi ideologis dan sosial, sehingga mengurangi beban penindakan di tingkat hilir.

Sinergi antara Densus 88 dan BNPT membentuk suatu arsitektur kontra-terorisme yang bersifat komplementer. Densus 88 beroperasi pada fase hilir dengan menargetkan pelaku dan jaringan yang telah teridentifikasi, sementara BNPT beroperasi pada fase hulu dengan menargetkan faktor-faktor pendorong radikalisasi.

Baca Juga :  Nilai Kehidupan Indonesia Nomor 1 di Dunia Versi Harvard, Haidar Alwi Ungkap Tiga Akar Kekuatan Nasional

Kombinasi ini memungkinkan Indonesia mempertahankan tingkat ancaman pada level yang relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara yang mengalami konflik bersenjata atau kelemahan kapasitas negara.

Secara global, hanya sekitar 1% kematian akibat terorisme terjadi di negara yang tidak dilanda konflik, sehingga stabilitas politik dan keamanan domestik Indonesia menjadi faktor penting yang memperkuat efektivitas kedua institusi tersebut.

Namun demikian, peningkatan peringkat Indonesia dalam indeks menunjukkan adanya tekanan baru yang tidak dapat diabaikan.

Perubahan lanskap terorisme global menuju pola desentralisasi dan individualisasi pelaku menciptakan tantangan baru yang lebih sulit dideteksi.

Selain itu, peningkatan serangan di wilayah perbatasan secara global dengan 41% serangan terjadi dalam radius 50 km dari perbatasan dan 64% dalam radius 100 km, menunjukkan pentingnya penguatan pengawasan wilayah dan kerja sama lintas negara, terutama dalam konteks Asia Tenggara yang memiliki mobilitas lintas batas yang tinggi.

Baca Juga :  Haidar Alwi Beberkan Alasan Mendukung Penambaham Anggaran Polri

Dalam situasi ini, ketergantungan yang berlebihan pada pendekatan represif berpotensi menciptakan ketidakseimbangan apabila tidak diimbangi dengan penguatan strategi preventif berbasis masyarakat dan ruang digital.

Dengan demikian, posisi Indonesia dalam Global Terrorism Index 2026 mencerminkan suatu kondisi stabilitas relatif yang dihasilkan oleh efektivitas kombinasi antara kapasitas koersif Densus 88 dan intervensi preventif BNPT.

Angka-angka yang relatif rendah dalam konteks global menunjukkan keberhasilan dalam mencegah eskalasi, namun peningkatan peringkat dan tambahan korban jiwa menegaskan bahwa ancaman tetap bersifat laten.

Baca Juga :  Tuduhan Makar Said Dudu Terhadap Kapolri Adalah Kritik Tanpa Disiplin Ilmiah

Stabilitas yang ada bukan merupakan indikasi absennya terorisme, melainkan hasil dari manajemen risiko yang berkelanjutan, yang ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan adaptasi institusi terhadap perubahan pola ancaman yang semakin cepat, terdesentralisasi, dan berbasis teknologi digital.

Jakarta, 9 April 2026

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *