Charma menjelaskan, masyarakat sudah sangat kecewa atas ketidakpekaan DPR yang gagal mewujudkan aspirasi masyarakat, terutama pada RUU Perampasan Aset yang harus gera dieksekusi oleh DPR untuk meredam keleluasaan para koruptor menyakiti hati masyarakat.
Keempat, meninjau kembali RUU KUHAP yang tidak pro-rakyat
Kelima, meminta Presiden Prabowo segera mereshuffle kabinet.
“Kami menilai reshuffle kabinet harus dilakukan karen kabinet hari ini masih dalam pengaruh geng solo yang sudah cukup dalam.
Selanjutnya, DPP Gencar meminta agar Presidne Prabowo segera melakukan tindakan strategis, dan harus lebih peka melihat kondisi rakyat, dan harus lebih peka.
“Presiden Prabowo jangan sampai melakukan hal-hal yang dapat melukai hati masyakarat, seperti memberikan bintang Mahaputra kepada 33 sosok pada situasi yang genting,” tandas Charma.
Selanjutnya Charma meminta seluruh jajaran Gencar Indonesia di seluruh Indonesia jangan terpancing provokasi dari penumpang gelap yang memanfaatkan kericuhan ini untuk kepentingan kelompok tertentu
“Mari kita bergandengan tangan, meredam dan membuat damai suasana. Jangan mudah terprovokas,” jelasnya.
Charma menilai, aparat kepolisian adalah saudara-saudara sebangsa dan setanah air, dan mereka satu komando di bawah perintah Kapolri.
“Para anggota Polri saat ini sudah berkorban dan memilih diam, karena seluruh Polda di kota-kota besar dibakar masyakarat. Karena itu, kami meminta masyarakat jangan melakukan tindakan anarkis,” tandasnya.
Terakhir, Charma meminta agar Presiden Prabowo siap-siap dan bila perlu membuat dekrot presiden, karena saat ini muncul suasana yang berpotensi lebih mencekam dari pada Reformasi 98,” tuntas Charma.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed










