Kekuatan Strategis Nasional dalam Hubungan Presiden Prabowo-Kapolri Sigit

Otonominews
Kekuatan Strategis Nasional dalam Hubungan Presiden Prabowo-Kapolri Sigit
Ir. R Haidar Alwi, MT
120x600
a

Jika stabilitas adalah fondasi, maka demokrasi membutuhkan unsur lain yang tak kalah penting, yaitu kritik. Namun kritik hanya bernilai bila diarahkan untuk memperbaiki negara, bukan sekadar memelihara kebencian.

Kritik yang Sehat Memperkuat Negara, Kebencian Hanya Melemahkan Bangsa.

Demokrasi tanpa kritik akan melahirkan kekuasaan yang mudah lalai. Karena itu, kritik terhadap pemerintah maupun Polri adalah hal wajar dan perlu.

Kesalahan harus dikoreksi, penyimpangan harus ditindak, pelayanan yang belum baik harus dibenahi. Kritik yang jujur adalah alat koreksi agar negara tidak jauh dari rakyat.

Namun kritik kehilangan martabat ketika berubah menjadi penolakan total tanpa ukuran. Jika polisi bekerja disebut pencitraan, jika polisi diam disebut lalai. Jika Presiden bertemu Kapolri disebut konspirasi, jika tidak bertemu disebut tidak kompak.

Pola pikir seperti ini tidak sedang mencari kebenaran, melainkan hanya mencari alasan untuk marah. Sayangnya, industri kegaduhan selalu punya pasar.

Masyarakat perlu kembali kepada ukuran yang objektif. Apakah keamanan membaik. Apakah layanan lebih cepat. Apakah korban bencana lebih cepat tertolong.

Apakah kejahatan digital lebih tertangani. Apakah masyarakat kecil merasa lebih terlindungi. Jika jawabannya membaik, maka kejujuran intelektual menuntut publik untuk mengakuinya.

Baca Juga :  Haidar Alwi Sodorkan Cara Pandang Baru dalam Mengelola Anugerah Kekayaan Alam

Dalam beberapa tahun terakhir, tantangan keamanan berubah sangat cepat. Penipuan digital dapat menguras tabungan keluarga hanya lewat satu tautan. Hoaks dapat memecah suasana sosial dalam hitungan jam.

Bencana membutuhkan koordinasi lintas lembaga dalam hitungan menit. Situasi seperti ini menuntut negara yang terhubung dan pimpinan yang mampu bekerja bersama. Karena itu, hubungan Presiden dan Kapolri harus dilihat sebagai kebutuhan strategis masyarakat modern.

“Kritik yang mulia selalu membawa jalan keluar. Kebencian yang kosong hanya pandai mencari panggung. Bangsa maju dibangun oleh warga yang berani menegur kesalahan, tetapi juga berani mengakui keberhasilan. Kejujuran kepada fakta adalah patriotisme yang sering dilupakan.” ujar Haidar Alwi.

Sesudah kritik ditempatkan secara proporsional, ukuran tertinggi dari setiap kebijakan tetap sederhana: apakah rakyat benar-benar merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Kekuatan Strategis Negara Harus Terasa Sampai ke Rumah-Rumah Rakyat.

Istilah kekuatan strategis negara tidak boleh berhenti sebagai bahasa elite. Nilainya harus terasa sampai ke pasar, sekolah, jalan raya, ruang digital, dan rumah tangga rakyat.

Ketika keamanan terjaga, pedagang kecil berani membuka usaha. Ketika hukum ditegakkan adil, masyarakat percaya kepada negara. Ketika pelayanan cepat, waktu warga tidak habis oleh birokrasi. Ketika bencana ditangani sigap, penderitaan korban dapat diperkecil.

Baca Juga :  Haidar Alwi Dukung Tambang Rakyat NTB: Harus Dicontoh Secara Nasional

Sinergi Presiden Prabowo dan Kapolri Listyo Sigit menjadi penting karena tantangan Indonesia semakin kompleks. Ancaman dapat datang dari gejolak ekonomi global, kejahatan digital, penyelundupan, narkotika, konflik sosial, hingga krisis kemanusiaan akibat bencana.

Negara membutuhkan kepemimpinan yang tenang, institusi yang siap, dan koordinasi yang tidak lamban. Keterlambatan negara sering dibayar mahal oleh rakyat kecil.

Haidar Alwi juga menegaskan bahwa kekuatan negara harus berjalan bersama kekuatan masyarakat. Haidar Alwi dikenal sebagai Pencetus Gerakan Nasional Rakyat Bantu Rakyat.

Gagasan ini menempatkan rakyat bukan sebagai penonton, tetapi mitra dalam membangun bangsa. Negara yang kuat bukan negara yang menjauh dari rakyat, melainkan negara yang dipercaya rakyat.

Karena itu, dukungan terhadap Polri dan pemerintah bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Dukungan terbaik justru mendorong reformasi berlanjut.

Polri harus semakin profesional. Pelayanan harus semakin modern. Penegakan hukum harus semakin adil. Transparansi harus semakin nyata. Pemerintah harus memastikan seluruh institusi bergerak dalam satu arah: keamanan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat.

Baca Juga :  Haidar Alwi Sodorkan 9 Narasi Kontra-hoaks Terkait Pertamina

Sejarah membuktikan bahwa bangsa yang berhasil bukan bangsa yang bebas dari ancaman, melainkan bangsa yang mampu menjawab ancaman dengan kepemimpinan yang cerdas dan institusi yang bekerja.

Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah kesinambungan arah, keberanian memperbaiki diri, dan kesetiaan menempatkan rakyat sebagai tujuan utama negara.

“Rakyat tidak membutuhkan negara yang hanya pandai berbicara. Rakyat membutuhkan negara yang hadir saat dibutuhkan, adil saat memutuskan, dan sigap saat melindungi.”

“Jika hubungan Presiden Prabowo dan Kapolri Listyo Sigit terus melahirkan rasa aman, pelayanan yang semakin baik, dan kepercayaan publik yang semakin kuat, maka itulah kekuatan strategis negara yang sesungguhnya. Dari sanalah masa depan Indonesia dibangun, bukan oleh kebisingan, tetapi oleh kerja nyata yang tahan terhadap ujian zaman.” pungkas Haidar Alwi.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *