Yang menarik, di akhir pertemuan, LEMTARI secara terbuka menyatakan siap “pasang badan” terhadap berbagai isu yang saat ini beredar terkait Bupati Limapuluh Kota. Sikap ini menimbulkan tafsir ganda: apakah ini bentuk solidaritas adat, atau justru indikasi keberpihakan yang bisa mengaburkan fungsi kontrol sosial?
Pertemuan yang ditutup dengan diskusi isu-isu kemasyarakatan dan sesi foto bersama itu memang terlihat hangat di permukaan. Namun di balik kehangatan tersebut, tersimpan dinamika yang lebih dalam—tentang relasi kuasa, peran adat, dan arah pembangunan Limapuluh Kota ke depan.
Publik kini menunggu, apakah sinergi ini benar-benar akan memperkuat nilai “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, atau justru menjadi alat legitimasi bagi kepentingan tertentu.
wartawan : Yori Despianto
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











