Limapuluh Kota, otonominews.id – 19 Maret 2026 Menjelang akhir Ramadan, Bupati Limapuluh Kota, H. Safni, menggelar acara buka bersama yang dirangkai dengan silaturahmi bersama LEMTARI di rumah dinasnya, Kamis (19/3). Agenda ini dikemas sebagai momentum refleksi sekaligus konsolidasi membahas arah kemajuan Limapuluh Kota ke depan.
Hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah tokoh penting, di antaranya M. Joni, Dt. Bosa Nan Panjang, Muhammad Ridha Ilahi S.Pt serta Dt. Putiah Nan Sati. Kehadiran mereka memperlihatkan adanya upaya merangkul unsur adat dan masyarakat dalam lingkar diskusi pembangunan daerah.
Namun di balik suasana hangat penuh kebersamaan dan nuansa religius, publik kembali dihadapkan pada realitas yang tak bisa diabaikan: apakah forum seperti ini benar-benar melahirkan arah kebijakan yang konkret, atau hanya menjadi ajang silaturahmi yang berhenti pada tataran wacana?
Dalam sambutannya, Bupati H. Safni menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan LEMTARI sebagai representasi kekuatan sosial dan adat. Ia menyampaikan bahwa pembangunan Limapuluh Kota tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan seluruh elemen masyarakat.
“Sinergi ini menjadi fondasi utama dalam membangun Limapuluh Kota yang lebih maju dan berdaya saing,” ujarnya.
Pernyataan tersebut terdengar ideal, tetapi masih menyisakan pertanyaan besar. Sejauh mana sinergi yang dimaksud telah diterjemahkan dalam kebijakan nyata? Sebab, hingga saat ini, berbagai persoalan klasik masih menjadi sorotan masyarakat—mulai dari ketimpangan pembangunan antarwilayah, terbatasnya lapangan kerja, hingga lemahnya pemberdayaan ekonomi berbasis nagari.
Dalam forum silaturahmi itu, diskusi mengenai masa depan Limapuluh Kota disebut mencakup berbagai aspek strategis, termasuk penguatan peran adat dalam menjaga stabilitas sosial dan mendukung program pembangunan. Tokoh adat seperti Dt. Bosa Nan Panjang menekankan pentingnya nilai-nilai kearifan lokal sebagai pijakan dalam setiap kebijakan.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











