Namun kritik tak bisa dielakkan. Tanpa indikator yang jelas, target yang terukur, serta transparansi dalam pelaksanaan program, pertemuan semacam ini berpotensi menjadi rutinitas simbolik—sekadar mempertemukan elite tanpa dampak langsung bagi masyarakat luas.
LEMTARI sebagai lembaga yang diharapkan menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat pun dituntut untuk tidak hanya hadir sebagai pelengkap acara. Perannya harus nyata dalam mengawal kebijakan, menyuarakan aspirasi, dan memastikan bahwa pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat.
Momentum penghujung Ramadan seharusnya menjadi ruang introspeksi, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi para pemimpin daerah. Silaturahmi tidak boleh berhenti pada seremoni makan bersama, melainkan harus menjadi titik awal lahirnya komitmen yang dapat diukur dan dipertanggungjawabkan.
Acara ditutup dengan penuh harapan agar Limapuluh Kota mampu melangkah menuju masa depan yang lebih baik. Namun di tengah harapan itu, masyarakat menuntut lebih dari sekadar kata-kata.
Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah daerah tidak diukur dari seberapa sering para elit bertemu, tetapi dari seberapa nyata perubahan yang dirasakan rakyatnya.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











