Catatan Kritis Retret Hambalang dari Pakar Otonomi Daerah Prof Djohermansyah

Otonominews
Prof Djohermnasyah Djohan.
Prof Djohermnasyah Djohan.
120x600
a

OTONOMINEWS.ID Retret jilid kedua Kabinet Merah Putih yang digelar di Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (6/1/2026), memicu perdebatan mendalam mengenai arah kepemimpinan nasional.

Kegiatan yang berlangsung sehari penuh itu menampilkan simbol-simbol disiplin, kekompakan, dan optimisme, namun di baliknya muncul pertanyaan kritis tentang efektivitas pendekatan komando dalam mengelola pemerintahan sipil yang kompleks, plural, dan berlandaskan otonomi daerah.

Pakar otonomi daerah, Prof. Dr. Djohermansyah Djohan, menilai retret tersebut lebih menyerupai glorifikasi kekuasaan dibandingkan forum evaluasi kebijakan yang substansial.

“Dalam kerangka tata kelola pemerintahan modern, pendekatan yang terlalu kental dengan nuansa militeristik justru berpotensi menurunkan mutu pengambilan keputusan publik,” katanya, dikutip Kamis (8/1/2026).

Baca Juga :  Pilkada Harus Ditata Ulang, Ini Alasan dan Solusinya

Kabinet Komando dan Pola One Way Traffic

Menurut Prof. Djohermansyah, pola kerja Kabinet Merah Putih saat ini cenderung satu arah, di mana instruksi mengalir dari pucuk pimpinan ke bawah tanpa ruang dialog yang cukup.

“Model semacam ini mungkin efektif untuk konsolidasi cepat, namun lemah dalam menyerap masukan dari para pelaksana kebijakan yang bersentuhan langsung dengan persoalan lapangan,” ungkapnya.

Dalam kabinet yang beranggotakan lebih dari seratus orang, komunikasi dua arah menjadi semakin sulit. Padahal, fungsi utama kabinet bukan hanya menjalankan perintah presiden, tetapi juga memberikan masukan, kritik, serta alternatif kebijakan.

Baca Juga :  Pemkab Lima Puluh Kota Peringati Hari Otda)l ke-28

“Ketika ruang tersebut menyempit, kebijakan berisiko kehilangan kepekaan terhadap realitas sosial dan administrasi pemerintahan,” ujar Prof. Djohermansyah.

Narasi keberhasilan yang ditampilkan secara nyaris sempurna, tanpa pengakuan terbuka atas kelemahan, dinilai tidak sehat dalam tradisi demokrasi. Kritik, tegasnya, seharusnya dipandang sebagai unsur penguat kebijakan, bukan ancaman.

Pemerintahan sebagai Ekosistem

Prof. Djohermansyah menegaskan bahwa pemerintahan modern tidak identik dengan presiden dan kabinet semata.

“Pemerintahan merupakan ekosistem yang melibatkan masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, komunitas lokal, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya,” katanya.

Baca Juga :  Peringatan Hari Otda ke-29, Gubernur Mahyeldi Tegaskan Sinergi Pusat-Daerah Kunci Wujudkan Pemerataan Pembangunan

Ketika negara tampil seolah menjadi satu-satunya aktor pembangunan, partisipasi publik melemah. Dampaknya, legitimasi kebijakan menurun dan dukungan sosial menyempit, yang dalam jangka panjang justru menghambat pencapaian tujuan nasional.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 5 / 5. Vote count: 1

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *