Selanjutnya, pengembangan layanan yang saat ini baru menjangkau sekitar 74 persen, ditargetkan Arief, bisa meningkatkan hingga 78 persen di akhir September 2025 ini.
Ia mengakui, untuk mengimplementasikan berbagai peningkatan ini dibutuhkan keleluasaan fiskal. Karena itu, pihaknya mengajukan perubahan status menjadi Perseroda agar PAM Jaya bisa memperoleh dana segar melalui penjualan saham hingga 30 persen.
Perubahan status ini dipastikan Arief tidak bertujuan memprivatisasi, tapi lebih sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan dan profesionalisme perusahaan.
“Kami berharap forum seperti ini bisa dilaksanakan rutin oleh Balkoters. Kalau bisa mengundang kami dua bulan sekali,” tambahnya.
Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Firdaus Ali menjelaskan, perkembangan dunia saat ini yang dihuni hingga 8,7 miliar jiwa berpotensi mengakibatkan persoalan krisis iklim dan air. Sebab, sesuai kalkulasi yang dibuatnya, daya tampung ideal dunia hanya di kisaran 5,7 milyar.
Karena itu, meski DKI Jakarta dialiri 13 sungai dan kali, persoalan air bila tidak dikelola dengan baik bisa menjadi bencana. Selain menekankan pentingnya sumber baku air selain dari Jati Luhur, Firdaus juga mengingatkan semua pihak untuk menjaga kualitas air dalam kota yang ada dengan tidak mengotori sungai agar nantinya bisa diolah menjadi air bersih.
Kemudian, Firdaus juga menegaskan pentingnya upaya menjaga penggunaan air tanah agar tidak memicu penurunan muka tanah lebih parah. Karenanya, upaya pipanisasi hingga 100 persen merupakan keharusan yang harus dicapai oleh PAM Jaya.
Ia mengakui, upaya pengembangan layanan hingga 100 persen dan mengentaskan NRW dengan pipanisasi membutuhkan anggaran besar. Karena itu, upaya kreatif PAM Jaya mencari sumber pembiayaan diyakini bisa menjadi solusi.
Pelibatan banyak pihak dalam kepemilikan saham justru menurut Firdaus akan menambah penguatan pengawasan. Sehingga muaranya akan meningkatkan kualitas layanan dan keterbukaan yang baik untuk membangun kepercayaan publik.
“Ini ruang baru bagi PAM Jaya transformasi diri untuk transparansi sehingga timbul trust ke manajemen tata kelola air. Dan dengan smart water manajemen akan mengganti pengelolaan air cara konvensional,” tandasnya. (OTN-Deman)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











