Rp100 Triliun Menguap untuk Subsidi BBM yang Dinikmati Pemilik Mobil Pribadi

Rp100 Triliun Menguap untuk Subsidi BBM yang Dinikmati Pemilik Mobil Pribadi
Ir. R Haidar Alwi, MT
120x600
a

Oleh: Ir. R HAIDAR ALWI (Pemikir Bangsa/Ikatan Keluarga Alumni ITB)

LONJAKAN harga minyak dunia selalu membawa konsekuensi langsung terhadap APBN Indonesia. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga minyak akan memperlebar selisih antara harga pasar dan harga BBM yang ditetapkan pemerintah.

Selisih itulah yang akhirnya harus ditutup oleh negara melalui subsidi atau kompensasi energi. Ketika harga minyak melonjak, beban fiskal ikut membengkak—bukan karena konsumsi masyarakat miskin meningkat, melainkan karena struktur subsidi yang sejak awal memang tidak tepat sasaran.

Masalah utama dari subsidi BBM di Indonesia adalah desainnya yang berbasis komoditas, bukan berbasis penerima. Selama subsidi diberikan kepada produk, maka siapa pun yang membeli BBM akan menikmati subsidi tersebut.

Baca Juga :  External Shock dari Krisis Biaya Hidup Singapura: Indonesia Harus Cepat Membaca dan Mengelola Momentum!

Akibatnya, kelompok masyarakat mampu pun ikut menerima manfaat yang sama dengan kelompok miskin.

Jika melihat data konsumsi, paradoks itu terlihat sangat jelas. Penyaluran Pertalite pada 2025 mencapai sekitar 28 juta kiloliter. Sekitar 70 persen dikonsumsi kendaraan roda empat, dan dari kelompok ini sekitar 98,7 persen adalah mobil pribadi.

Artinya, hampir 19,4 juta kiloliter Pertalite dikonsumsi mobil pribadi (tidak termasuk taksi online, taksi konvensional, dan angkutan umum).

Sementara itu, dari sekitar 18,4 juta kiloliter biosolar yang disalurkan, jika sekitar 45 persen digunakan mobil pribadi, maka sekitar 8,3 juta kiloliter juga dinikmati kendaraan pribadi.

Baca Juga :  Haidar Alwi Ingatkan Pekerti Menghargai Pembangunan dan Menghormati Pemimpin

Jika kedua angka ini digabungkan, sekitar 27–28 juta kiloliter BBM subsidi berpotensi digunakan oleh mobil pribadi. Itu berarti hampir 60 persen dari total BBM subsidi sebenarnya dikonsumsi oleh kendaraan yang dalam banyak kebijakan publik sering dianggap sebagai indikator kelompok masyarakat mampu.

Dalam kondisi harga minyak dunia stabil, masalah ini mungkin masih bisa ditoleransi. Namun ketika harga minyak melonjak—misalnya akibat konflik geopolitik atau gangguan pasokan global—beban fiskal negara langsung meningkat tajam.

Baca Juga :  Muncul Gerakan Menolak Kenaikan PPN 12 Persen, Haidar Alwi: Ada Saatnya Semua Masyarakat Akan Mendukung

Setiap kenaikan harga minyak beberapa dolar per barel dapat menambah puluhan triliun rupiah beban subsidi. Ironisnya, sebagian besar tambahan beban tersebut justru ikut membiayai konsumsi BBM mobil pribadi.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *