Nilailah Kinerja Polri dengan Kejernihan Hati

Nilailah Kinerja Polri dengan Kejernihan Hati
Ir. R. Haidar Alwi, MT.
120x600
a

JAKARTA, OTONOMINEWS.ID Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago saat memberikan kuliah umum di Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Lemdiklat Polri pada 9 Maret 2026 memicu diskusi luas di ruang publik.

Ia mengingatkan bahwa anggota polisi bekerja siang malam menjaga keamanan masyarakat, meskipun sering dinilai tidak becus oleh sebagian publik.

Pernyataan itu viral dan membuka kembali pertanyaan lama dalam kehidupan bernegara: apakah masyarakat benar-benar memahami beratnya tugas menjaga keamanan, atau hanya melihat polisi dari potongan peristiwa yang paling ramai di media sosial.

Perdebatan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, kritik terhadap kepolisian sering muncul di ruang publik, terutama ketika terjadi kasus yang menyita perhatian nasional.

Namun di tengah arus kritik tersebut, Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, dikenal sebagai salah satu tokoh yang cukup konsisten mengingatkan masyarakat agar tidak melihat Polri hanya dari sisi negatifnya.

Baca Juga :  PT Perminas Harus Maksimalkan Logam Tanah Jarang Sebagai Kekuatan Indonesia di Kancah Global

Dalam berbagai tulisan di media massa maupun diskusi publik, Haidar Alwi berulang kali menegaskan bahwa stabilitas negara tidak lahir secara kebetulan.

Ia dijaga setiap hari oleh institusi keamanan yang bekerja di belakang layar, sering tanpa sorotan, dan sering pula tanpa apresiasi.

Karena itu, menurut Haidar Alwi, menilai kepolisian hanya dari peristiwa yang viral merupakan cara pandang yang terlalu sempit terhadap institusi yang memikul tanggung jawab besar dalam kehidupan bernegara.

“Dalam psikologi sosial ada konsep yang disebut availability bias, yaitu kecenderungan manusia menilai suatu institusi berdasarkan peristiwa yang paling mudah diingat.”

Baca Juga :  Haidar Alwi: Podcast yang Meragukan Keabsahan Profesor Sufmi Daso Terindikasi Melanggar Kode Etik Jurnaliatik

“Satu kasus yang viral bisa menutupi ribuan pekerjaan polisi yang berjalan baik setiap hari. Tanpa memahami mekanisme psikologis ini, persepsi publik mudah terjebak pada gambaran yang tidak utuh,” jelas Haidar Alwi.

Penjelasan tersebut menjadi relevan di era media sosial, ketika informasi bergerak sangat cepat dan sering kali lebih didorong oleh emosi dibanding pemahaman yang mendalam.

Akibatnya, satu peristiwa dapat membentuk opini besar terhadap sebuah institusi yang sebenarnya memiliki peran jauh lebih kompleks dalam kehidupan masyarakat.

Kesalahan Persepsi Publik terhadap Kerja Polisi.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat biasanya melihat polisi hanya ketika terjadi masalah.

Ketika ada kecelakaan, konflik sosial, atau kejahatan, polisi muncul sebagai pihak yang harus menyelesaikan situasi tersebut. Namun ketika keamanan berjalan normal, jarang ada yang bertanya siapa yang menjaga keadaan tetap tenang.

Baca Juga :  OCCRP Dinilai Merendahkan Martabat Bangsa, Haidar Alwi: Presiden Prabowo Harus Protes Pemerintahan Belanda

“Dalam studi keamanan negara ada prinsip yang dikenal sebagai the invisible success of security. Keberhasilan terbesar aparat keamanan justru terjadi ketika ancaman berhasil dicegah sebelum menjadi krisis. Karena itu keberhasilan polisi sering tidak terlihat, sementara kegagalan kecil bisa langsung menjadi sorotan besar,” tegas Haidar Alwi.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *