Oleh: Ir. R Haidar Alwi, MT., (Dewan Pembina Ikatan Keluarga Alumni ITB)
INDONESIA sedang dihadapkan pada pilihan strategis yang akan menentukan posisinya dalam peta industri global untuk puluhan tahun ke depan.
Logam tanah jarang bukan sekadar pertambangan, melainkan cerminan kemampuan negara untuk keluar dari pola lama sebagai pemasok bahan mentah.
Kerangka dan data dari survei geologis Amerika Serikat menunjukkan bahwa nilai logam tanah jarang tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang digali, melainkan oleh siapa yang menguasai pengolahan, pemurnian, dan pemanfaatannya dalam industri strategis.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan sumber. Unsur logam tanah jarang hadir sebagai ikutan timah, nikel, serta berbagai tailing yang selama ini dianggap sebagai limbah. Namun selama negara hanya berhenti pada tahap bahan mentah atau campuran oksida, Indonesia tidak pernah berubah.
Negara lain memisahkan unsur bernilai tinggi, mengolahnya menjadi magnet, motor listrik, dan komponen teknologi, lalu menjual kembali produk tersebut ke Indonesia dengan harga berkali-kali lipat. Dalam rantai nilai seperti ini, kekayaan alam justru menjadi simbol ketergantungan, bukan kedaulatan.
Proyek logam tanah jarang tidak boleh dirancang untuk menghasilkan keuntungan jangka pendek. Teknologinya mahal, pasarnya sensitif, dan risikonya tinggi. Jika negara hanya menunggu proyek yang pasti menguntungkan dalam waktu singkat, industri ini tidak akan pernah berkembang.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











