Runtuhnya Hegemoni Petrodolar, Indonesia di Persimpangan Global

Otonominews
Runtuhnya Hegemoni Petrodolar, Indonesia di Persimpangan Global
Ir. R Haidar Alwi, MT.
120x600
a

Ketika dunia beralih dari kertas ke nilai nyata, Indonesia seharusnya tampil sebagai poros baru ekonomi Asia Tenggara. Kita memiliki apa yang dunia cari: pangan, energi, dan kestabilan.

Data Bank Indonesia menunjukkan cadangan devisa nasional pada Oktober 2025 mencapai sekitar 140 miliar dolar AS, cukup untuk menutup enam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.

Inflasi terkendali di bawah 3,5 persen, dan nilai rupiah relatif stabil di tengah ketidakpastian global. Maka perlu diingat bahwa angka makro tidak cukup tanpa arah moral ekonomi.

Angka adalah hasil, bukan tujuan. Negara besar bukan yang stabil angkanya, tapi yang kuat nilainya. Kedaulatan ekonomi tidak lahir dari neraca, tapi dari kesadaran.

Tantangan Baru bagi Purbaya di Era Prabowo.

Dalam konteks nasional, peran penting Purbaya Yudhi Sadewa dalam menjaga keseimbangan fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Masa transisi global ini menjadi ujian terbesar bagi para penjaga ekonomi bangsa.

Baca Juga :  Haidar Alwi Gagas Koperasi Tambang Rakyat

Saya percaya Pak Purbaya memahami bahwa kekuatan ekonomi tidak hanya diukur dari angka, tapi dari arah. Di tangan beliau, keseimbangan antara keberanian politik dan disiplin fiskal akan diuji.

Keberanian tanpa kebijakan berisiko menjadi gejolak, tapi kebijakan tanpa keberanian hanya melahirkan stagnasi.

Kebijakan Presiden Prabowo memperkuat fondasi ekonomi nasional, mulai dari hilirisasi sumber daya, kemandirian pangan, hingga pertahanan, adalah langkah sejarah. Namun langkah besar itu harus dijaga dengan keseimbangan fiskal dan strategi yang jernih.

Pak Prabowo membawa energi perubahan, dan Pak Purbaya membawa nalar keseimbangan. Jika keduanya bersatu dalam visi yang sama, maka Indonesia bukan hanya selamat dari badai global, tetapi justru memimpin arah ekonomi dunia baru.

Baca Juga :  Haidar Alwi Munajat Kebangsaan 10.000 Doa untuk Negeri

Dari Uang Kertas ke Nilai Nyata.

Masa depan ekonomi dunia bukan lagi soal mencetak uang, tetapi tentang menciptakan nilai. Bangsa yang menggantungkan kekayaannya pada angka akan kehilangan arah ketika sistem bergeser.

Bangsa yang sibuk menghitung tidak akan sempat menanam. Tapi bangsa yang berani menanam nilai akan memanen masa depan.

Sangat penting membangun ekonomi berbasis produksi rakyat, menguatkan sektor pertanian, memperluas kepemilikan emas nasional, dan mengembangkan industri energi bersih. Inilah cara untuk mengubah kemandirian ekonomi dari slogan menjadi kenyataan.

Bangsa ini telah diberi karunia yang tidak terhitung, tanah yang kaya, laut yang luas, dan manusia yang tangguh. Kini saatnya kekayaan itu tidak hanya ditambang, tapi dimaknai.

Baca Juga :  Gubernur Pramono dan Menkeu Purbaya Sepakat Dorong Collaboration Fund

Kesadaran Baru di Tengah Runtuhnya Sistem Lama.

Petrodolar memang telah kehilangan kekuasaannya, tapi kesadaran bangsa jangan ikut padam. Dunia kehilangan sistem lamanya, namun Indonesia tidak boleh kehilangan jiwanya.

Selama rakyat negeri ini masih memiliki tanah untuk ditanami, laut untuk dilayari, dan keyakinan untuk bekerja, maka tidak ada kekuatan ekonomi global yang mampu menjatuhkan rupiah. Karena nilai sejati ekonomi bukan pada uang, tapi pada kesadaran.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *