Insiden Ojol Terlindas Adalah Duka Bersama, Haidar Alwi: Rakyat dan Polisi Harus Saling Menghargai

Otonominews
Insiden Ojol Terlindas Adalah Duka Bersama, Haidar Alwi: Rakyat dan Polisi Harus Saling Menghargai
120x600
a

JAKARTA, OTONOMINEWS.ID – R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, menyebut insiden ojol terlindas yang terjadi di Pejompongan, Jakarta Pusat, pada 28 Agustus 2025 sebagai duka bangsa. Dalam kericuhan pengamanan aksi massa di sekitar Gedung DPR RI, dua pengemudi ojek online menjadi korban.

Afan Kurniawan meninggal dunia setelah terlindas rantis Brimob, sementara rekannya Moh. Umar Amarudin selamat meski sempat dilarikan ke rumah sakit. Bagi Haidar Alwi, ini bukan hanya soal satu nyawa rakyat kecil, tetapi tamparan nurani bagi seluruh bangsa.

Namun, haidar Alwi menekankan pula bahwa langkah cepat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang langsung meminta maaf, menginstruksikan pemeriksaan transparan, dan bahkan hadir langsung di RSCM menemui keluarga korban, menunjukkan bahwa Polri tidak menutup diri dari kritik.

Baca Juga :  Gubernur Pramono Mengecek Car Free Day, Puing-Puing Sisa Demo Mulai Dibereskan

“Kapolri sudah membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang berani berdiri di garis depan ketika institusinya menghadapi ujian,” ujar Haidar Alwi.

*Demo Sah Menurut UU, Tapi Harus Tertib.*

Haidar Alwi mengingatkan bahwa unjuk rasa adalah hak konstitusional sesuai UU No. 9 Tahun 1998, tetapi hak ini datang bersama kewajiban menjaga keteraturan. Aksi dengan izin resmi memang sah, namun ketika jumlah massa meluber hingga mengganggu lalu lintas, warga sipil yang tidak ikut aksi bisa jadi korban.

*“Demo adalah hak demokratis, tapi hak itu tidak boleh meniadakan kewajiban menjaga keteraturan bersama. Bila warga sipil menjadi korban, maka itu adalah tanggung jawab bersama, bukan semata aparat,”* kata Haidar Alwi.

*Tragedi Ojol dan Bahaya Provokasi.*

Baca Juga :  Menolak Lupa Jasa Polri, Haidar Alwi: Presisi Menjadi Pilar Kehormatan Bangsa

Menurut Haidar Alwi, insiden yang menimpa Afan dan Umar bukanlah kesengajaan aparat, melainkan akibat situasi kacau yang tidak terkendali. Rantis Brimob yang tengah melakukan manuver pembubaran melintas di jalur yang sama dengan korban. Dalam kondisi panik, korban diduga terjatuh dan akhirnya terlindas.

*“Risiko ini selalu ada bila demonstrasi tak terkendali, rakyat kecil yang sebenarnya tidak ikut aksi bisa menjadi korban,”* jelas Haidar Alwi.

Namun, haidar Alwi juga menekankan bahaya yang lebih besar: provokasi. Menurutnya, setiap tragedi selalu punya celah untuk ditunggangi pihak-pihak yang ingin menciptakan keretakan bangsa.

“Provokator selalu mencari celah dari luka rakyat. Mereka ingin rakyat membenci polisi, dan polisi membenci rakyat. Padahal, aparat dan rakyat adalah dua sisi dari satu bangsa. Jangan biarkan tragedi ini dipelintir menjadi senjata perpecahan,”* tegas Haidar Alwi.

Baca Juga :  Deddy Sitorus: Perbaikan Hukum Tak Bakal Terjadi Kalau Jenderal Listyo Masih Kapolri

Haidar Alwi menambahkan bahwa solidaritas ribuan driver ojol yang mendatangi Mako Brimob Kwitang adalah wajar sebagai bentuk keprihatinan. Namun, ia mengingatkan bahwa ekspresi solidaritas harus dijaga agar tidak dipelintir menjadi amarah tanpa arah.

“Suara rakyat harus kita hormati, tapi jangan sampai suara itu dibajak untuk tujuan lain,” kata haidar Alwi.

*Kapolri Bergerak Cepat: Teladan Kepemimpinan Moral.*

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 5 / 5. Vote count: 1

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *