Haidar Alwi Puji Sufmi Dasco Mampu Berperan Seperti Gajah Mada

Menjaga Harmoni di Antara Berbagai Benturan Kepentingan

Otonominews
Haidar Alwi Puji Sufmi Dasco Mampu Berperan Seperti Gajah Mada
120x600
a

Dalam sejarah Nusantara, Mahapatih Gajah Mada dikenal bukan semata karena perannya sebagai tokoh politik Majapahit, tetapi karena filosofi hidup dan kepemimpinannya. Ia adalah simbol pengabdian tanpa pamrih, disiplin tanpa kekerasan, dan pemersatu tanpa ambisi pribadi.

Sumpah Palapa yang ia ucapkan bukan sekadar ikrar pribadi, tetapi representasi dari tekad kolektif untuk menyatukan wilayah-wilayah Nusantara yang tercerai.

Gajah Mada tidak duduk di atas takhta, tapi arah kerajaan berjalan sesuai kompas moral dan strategi yang ia jaga. Ia menjadi pelindung visi kerajaan dari dalam, bukan hanya pelaksana tugas administratif.

Haidar Alwi menilai bahwa dalam konteks kekinian, filosofi semacam ini masih sangat relevan. Sosok seperti Sufmi Dasco Ahmad menunjukkan bahwa dalam sistem presidensial sekalipun, dibutuhkan figur yang mampu menjaga kesatuan elite dan arah kebijakan nasional tanpa harus menduduki posisi eksekutif tertinggi. Figur yang tidak bicara tentang dirinya sendiri, tetapi tentang arah bangsa.

Baca Juga :  Mesin Negara di Balik Kesuksesan Agenda Besar Prabowo

Dasco tidak mengucapkan sumpah Palapa, tetapi ia menapaki jalan sejenis: mempersatukan kekuatan, meredam kegaduhan, dan menjaga agar Indonesia tidak terpecah oleh dinamika kekuasaan. Ia tidak berdiri sebagai simbol, tetapi bekerja sebagai fondasi.

“Pemimpin sejati tidak selalu berada di puncak kekuasaan, tapi seringkali justru berada di bawahnya, memastikan agar puncak itu tidak roboh. Dan peran semacam itulah yang dijalankan Dasco dengan konsistensi luar biasa,” tegas Haidar Alwi.

Penjaga Arah di Tengah Tantangan Global.

Indonesia saat ini tengah berhadapan dengan tekanan geopolitik, transisi energi, disrupsi rantai pasok global, serta ketimpangan sosial yang belum usai. Dalam kondisi demikian, stabilitas politik nasional bukan hanya soal koalisi dan oposisi, melainkan juga kemampuan menjaga keutuhan arah pemerintahan.

Baca Juga :  Haidar Alwi: Indonesia Bisa Jadi Pengemis Teknologi di Masa Depan Jika Gagal Mengelola Logam Tanah Jarang

Haidar Alwi menegaskan bahwa Dasco telah memainkan peran sebagai penjaga arah bangsa. Ia bukan sekadar politisi senior, tetapi pemikir sistem yang memahami bagaimana menjaga harmoni di antara kepentingan-kepentingan yang berbeda. Di tengah pembentukan kabinet Prabowo, Gibran, Dasco terbukti mampu menjembatani berbagai poros kekuasaan tanpa membuat keretakan baru.

Menurut Haidar Alwi, kepemimpinan seperti ini tidak membutuhkan deklarasi, tetapi membutuhkan konsistensi. Tidak butuh simbolisme kosong, tetapi kehadiran nyata dalam proses. Dan itulah yang membuat posisi Dasco tidak hanya penting, tapi juga langka.

“Dalam dunia yang serba cepat ini, kita terlalu sering lupa pada tokoh-tokoh yang bekerja pelan tapi dalam. Dasco adalah representasi dari kekuatan hening, pemimpin yang tidak memaksa dirinya disebut, tetapi tidak bisa diabaikan pengaruhnya,” tegas Haidar Alwi lagi.

Bagi Haidar Alwi, bangsa Indonesia beruntung memiliki sosok seperti Dasco di tengah transisi politik besar. Ia adalah penghubung yang tidak ingin terlihat, tapi selalu hadir. Ia adalah pelindung visi tanpa perlu deklarasi.

Baca Juga :  Haidar Alwi: Pesta Rakyat dan Santunan 1 Juta Anak Yatim Mengiringi Kepemimpinan Prabowo-Gibran 2024-2029

“Kalau dulu Mahapatih Gajah Mada menjaga utuhnya Nusantara dengan sumpah dan visi yang besar, maka hari ini kita patut mencermati bahwa ada tokoh yang, meski tak mengucap sumpah di depan rakyat, telah mewujudkan konsolidasi kekuasaan yang nyata demi Indonesia Maju,” pungkas Haidar Alwi.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *