JAKARTA, OTONOMINEWS.ID | Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, Haidar Alwi menyampaikan pesan tegas yang membuat merinding terkait Rare Earth Elements (REE) atau Unsur Tanah Jarang.
REE saat ini semakin menarik perhatian publik global dan menjadi rebutan negara-negara besar dunia, di tengah kemajuan teknologi dan kebutuhan pada energi bersih ramah lingkungan.
Menurut Haidar, hari Indonesia ada dalam dua pilihan penting dengan konsekuensi yang menentukan masa depan. Apakah akan serius mengelola REE atau mengabaikannya.
“Jika kita gagal mengelola REE hari ini, kita akan mengemis teknologi di masa depan,” kata Haidar Alwi.
“Tapi jika kita berani berdiri sendiri, REE bisa menjadi gerbang menuju Indonesia yang benar-benar berdaulat secara ekonomi, energi, dan ilmu pengetahuan.”
Haidar menyoroti Keberadaan Rare Earth Elements (REE) atau Unsur Tanah Jarang semakin menarik perhatian publik global.
Di tengah transisi energi bersih dan perlombaan teknologi tinggi antarnegara, REE menjadi komoditas strategis yang diperebutkan banyak kekuatan besar dunia.
“Namun ironisnya, di Indonesia, negara yang diperkirakan menyimpan potensi REE dalam jumlah besar, isu ini masih belum menjadi prioritas utama dalam kebijakan nasional,” kata Haidar dalam keterangan tertulis kepada liranews.com, Senin (5/5/2025).
Haidar yang menjadi pendiri Haidar Alwi care dan Haidar Alwi institute mengingatkan bahwa Indonesia harus segera bangun dari tidur panjang.
Menurutnya, REE adalah senjata masa depan yang tak berbentuk peluru, tetapi mampu menentukan arah kekuasaan ekonomi, pertahanan, dan inovasi teknologi global.
“Kita terlalu sering menjadi eksportir mentah dan penonton dari revolusi industri global. Kini, di tangan kita ada bahan dasar peradaban digital dan energi masa depan. Kita tidak boleh lengah,” tandas Haidar.
Logam Kecil, Dampak Global Besar.
REE adalah kelompok 17 unsur dalam tabel periodik, yang digunakan dalam berbagai teknologi mutakhir seperti mobil listrik, turbin angin, baterai energi baru, radar militer, dan satelit komunikasi. Bahkan dalam industri pertahanan, satu unit jet tempur modern seperti F-35 membutuhkan lebih dari 400 kg REE.
Meski disebut “tanah jarang”, unsur ini sebenarnya tidak terlalu langka dari sisi jumlah. Namun, kemurnian dan konsentrasi ekonomisnya sulit ditemukan. Itulah yang menjadikannya komoditas bernilai tinggi dan sulit digantikan.
“Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Uni Eropa berlomba-lomba mengamankan pasokan logam ini dari wilayah-wilayah yang potensial,” jelas Haidar.
Indonesia dan Potensi yang Tersembunyi.
Haidar Alwi menyodorkan data dari sejumlah riset geologi yang menunjukkan bahwa Indonesia menyimpan cadangan REE yang signifikan. Beberapa di antaranya bahkan telah tercatat dalam data Kementerian ESDM.
Dua diantaranya adalah:
Pertama di Bangka Belitung: dikenal sebagai wilayah penghasil monazite, mineral pembawa REE yang umum ditemukan sebagai ikutan dalam tambang timah.
Kedua di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah: menyimpan mineral xenotime, juga termasuk pembawa REE yang potensial.
“Estimasi total cadangan bijih xenotime di Indonesia mencapai lebih dari 6,4 miliar ton, sedangkan monazite terukur mencapai lebih dari 52 juta ton,” jelas Haidar.
Haidar Alwi menyebut data ini sebagai peringatan sekaligus peluang. “Negara lain sibuk berebut, kita justru belum menyentuhnya secara serius. Ini salah satu aset yang bisa mengubah posisi geopolitik Indonesia,” jelasnya.
Teknologi Ekstraktif: Hambatan atau Peluang?
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












