Haidar Alwi Tegaskan Tambang Rakyat adalah Solusi untuk Keadilan

Tambang Rakyat Harus Didampingi, Bukan Dicurigai

Otonominews
Haidar Alwi Tegaskan Tambang Rakyat adalah Solusi untuk Keadilan
R. Haidar Alwi.
120x600
a

Semua legalitas tetap berada di tangan koperasi. Inilah bentuk baru dari ekonomi rakyat yang bertahap sedang dibangun. Koperasi menjadi wadah demokratis, bukan boneka elite.

Kritik yang Tak Hadirkan Solusi: Sebuah Kemewahan Intelektual yang Gagal Membumi.

Dalam artikel yang mengkritik IPR, disebutkan bahwa Kejaksaan Tinggi NTB tidak dilibatkan. Ini seolah membangun kesan bahwa proses legalisasi tambang rakyat cacat prosedur. Namun dalam struktur pemerintahan, pengawasan Kejati hadir pada level penegakan hukum, bukan dalam pemberian izin teknis pertambangan.

Haidar Alwi mempertanyakan posisi moral para pengkritik: apakah mereka benar-benar membela rakyat, atau hanya nyaman berada di zona debat akademik?

“Jangan menjadi kritikus yang hanya menonton rakyat berjuang dari balik layar laptop. Kalau memang peduli, turunlah ke lapangan. Dampingi rakyat gali tambang tanpa merusak alam. Bantu edukasi soal lingkungan, soal koperasi, soal akuntabilitas,” kata Haidar Alwi.

Baca Juga :  Program Rakyat Bantu Rakyat Haidar Alwi untuk Mendoakan Presiden, Kapolri, dan Tokoh Bangsa

Justru yang membahayakan lingkungan adalah tambang ilegal. Tidak ada reklamasi, tidak ada data, tidak ada pajak. Legalitas melalui koperasi membuka peluang pengawasan partisipatif, audit lingkungan, hingga insentif tambang rakyat berkelanjutan.

Data dari KLHK pada 2023 mencatat bahwa 73% kerusakan DAS di NTB disebabkan oleh aktivitas tambang ilegal. Sementara itu, tambang koperasi yang baru mengantongi IPR berada dalam fase awal dan tunduk pada kewajiban studi lingkungan dan pelaporan berkala. Tidak adil jika mereka yang baru ingin tertib justru diserang habis-habisan.

Arah Masa Depan: Tambang Rakyat Harus Didampingi, Bukan Dicurigai.

Haidar Alwi menekankan bahwa bangsa ini tidak akan maju jika terus menanamkan rasa curiga terhadap upaya pemberdayaan rakyat. IPR bukan solusi sempurna, tapi itu langkah awal.

Baca Juga :  Matahari Kembar KPK dan Kejaksaan, Haidar Alwi: Ketidakmampuan KPK vs Ambisi Kejaksaan!

Jika semua pihak mau mengawal bersama,akademisi, LSM, aparat, dan pelaku usaha, maka model koperasi tambang rakyat bisa menjadi sistem baru yang sehat dan berkeadilan.

Negara hadir bukan untuk menyelamatkan segelintir elit. Negara hadir agar rakyat punya ruang berjuang. Dan ruang itu sedang dibuka di NTB. Jangan kita tutup lagi dengan teori ketakutan.

“IPR bukan hanya dokumen. Ia adalah simbol perubahan peran rakyat dari yang ditertibkan menjadi yang membangun tertib. Kalau dulu tambang rakyat adalah korban, kini mereka adalah pemilik sah,” tegas Haidar Alwi.

Artikel-artikel kritis tetap diperlukan sebagai penyeimbang, tapi jangan sampai menyebarkan pesimisme sistemik. Ketika koperasi tambang rakyat diberi ruang, jangan buru-buru dicurigai sebagai alat baru oligarki. Justru di sanalah letak perjuangan baru dimulai. Karena yang terselubung bukanlah monopoli, tapi trauma lama yang belum sembuh.

Baca Juga :  Kisruh Pagar Laut Pesisir Tangerang, Haidar Alwi: Usut Dugaan Pidana Korporasi

“Kini saatnya kita percaya: rakyat juga bisa bangkit, tertib, dan mandiri. Jangan takut jika rakyat mulai berdaulat di tanahnya sendiri,” pungkas Haidar Alwi.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *