Perkuat Sistem Peringatan Dini Tsunami, BMKG dan BNPB Jalin Kolaborasi

Perkuat Sistem Peringatan Dini Tsunami, BMKG dan BNPB Jalin Kolaborasi
Peresmian Gedung Sistem Operasional InaTEWS BMKG di Bali/Dok. BNPB.
120x600
a

KUTA, OTONOMINEWS.ID Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana tsunami. Tidak hanya tsunami yang dipicu oleh aktivitas gempa tektonik, tetapi juga tsunami yang disebabkan oleh longsoran bawah laut seperti yang terjadi di Palu pada 2018, serta akibat aktivitas vulkanik seperti pada peristiwa Krakatau di tahun yang sama.

Dua kejadian tersebut telah dijadikan pembelajaran bahwa sistem peringatan dini tsunami harus disiapkan untuk menghadapi berbagai jenis pemicu bencana tidak hanya dari satu sumber, tetapi dari berbagai kemungkinan dan faktor lainnya.

Baca Juga :  Prakiraan Cuaca Hari Ini: Seluruh Wilayah Jabodetabek Berawan

Belajar dari pengalaman tersebut, inisiatif untuk memperkuat sistem peringatan dini di bagian hulu dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat di bagian hilir telah dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia melalui kolaborasi antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BMKG) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Inisiatif itu kemudian diwujudkan oleh BMKG dengan pembangunan gedung sistem operasional InaTEWS BMKG di Bali, sebagai back up facilities yang pada hari ini, Sabtu (14/6) telah diresmikan.

Gedung yang didesain secara khas berbentuk ‘udeng’ atau pengikat kepala khas Bali ini dibangun menggunakan pendanaan IDRIP (Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project) dari World Bank, yang mana Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., menjadi ketua Steering Comittee dalam proyek pendanaan tersebut.

Baca Juga :  Prakiraan Cuaca Hari Ini: Sebagian Wilayah Jabodetabek Berawan dan Diguyur Hujan

Di sela peresmian gedung sistem operasional Ina-TEWS itu, Plt. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa inisiatif ini dirancang bukan hanya sebagai respons terhadap bencana yang telah terjadi, tetapi juga sebagai langkah antisipatif untuk menghadapi potensi bahaya di masa mendatang.

“Dari beberapa peristiwa besar itulah yang kemudian mendasari BMKG bersama BNPB tentunya sebagai leading sektor penanggulangan bencana di Tanah Air untuk merancang langkah antisipatif untuk menghadapi bencana serupa di kemudian hari,” ungkap Dwikorita dalam keterangannya dikutip, Minggu (15/6/2025).

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *