Polkam  

Haidar Alwi Dinilai Paling Cocok Menjadi Jubir Istana Gantikan Hasan Nasbi

Otonominews
Haidar Alwi Dinilai Paling Cocok Menjadi Jubir Istana Gantikan Hasan Nasbi
Tokoh Toleransi Indonesia, Ir. R. Haidar Alwi, MT.
120x600
a

JAKARTA, OTONOMINEWS.ID | Analis politik yang juga pakar hukum, Saiful Huda Ems (SHE) menyodorkan nama Ir. Haidar Alwi sebagai sosok tepat mengisi kursi panas Kepala Kantor Komunikasi Presiden atau PCO yang baru saja ditinggalkan mundur oleh Hasan Nasbi.

Melalui naskah analisis berjudul “Mencari Pengganti Kepala Kantor Komunikasi Presiden” Saiful Huda Ems (SHE) memaparkan banyak pertimbangan strategis yang menunjukkan bahwa Haidar Alwi sangat tepat diangkat menjadi PCO.

“Dengan mengangkat Haidar Alwi sebagai pengganti Hasan Nasbi, sebenarnya Pemerintahan Prabowo memiliki banyak keuntungan,” kata Saiful Huda Ems.

Pertama, kecakapan komunikasi.

“Bang Haidar Alwi cakap berkomunikasi politik hingga akan menjamin terciptanya kesejukan komunikasi politik antara Pemerintahan Prabowo dengan rakyatnya,” jelas Saiful Huda.

Kedua, cerdas memberi solusi atas masalah bangsa.

“Bang Dr. Haidar Alwi juga akan banyak memberikan masukan solusi berharga bagi Pemerintahan Prabowo,” jelasnya.

Menurut Saiful Huda, solusi dari para pejabat kepada Presiden Prabowo sangat dibutuhkan, untuk meminimalisir gejolak ekonomi dan sosial.

“Termasuk solusi bagi Presiden Prabowo untuk mempermudah penyelesaian hutang luar negeri Indonesia yang diwariskan oleh Jokowi,” tegas Saiful Huda.

Berikut Analisis Lengkap Saiful Huda Ems yang dipersembahkan secara eksklusif untuk pembaca yang Budiman.

Baca Juga :  Haidar Alwi: Layanan Polri untuk Masyarakat Meningkat Pesat Sejak Diluncurkan Polri Presisi 2021

MENCARI PENGGANTI KEPALA KANTOR KOMUNIKASI PRESIDEN

Masih ingat dengan pernyataan Presiden Pak Prabowo Subianto beberapa waktu lalu, yang menyatakan secara terus terang dan terbuka, bahwa komunikasi politik istana itu sangat tidak baik dan mengecewakan? Tentu publik masih sangat mengingat hal itu, yang kemudian tak seberapa lama dari pernyataan Presiden Prabowo itu, Presiden Prabowo telah menunjuk Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi sebagai Juru Bicara Presiden (Prabowo).

Namun tiba-tiba hari ini Selasa (29/April/2025), Kepala Kantor Komunikasi Presiden atau PCO, Hasan Nasbi menyatakan secara terbuka mengundurkan diri. Padahal sebelumnya Hasan Nasbi telah saya dan teman-teman pemerhati politik juga duga, bahwa ia sebenarnya sudah “masuk kotak”, yang berarti dia sudah “tidak dianggap” lagi oleh Presiden Prabowo sebagai juru bicaranya.

Karena itu kabar pernyataan pengunduran diri Hasan Nasbi dari PCO, sebenarnya tidaklah terlalu mengejutkan bagi saya dan teman-teman pemerhati politik lainnya. Kenapa bisa demikian? Pertama, karena selama ini Hasan Nasbi sebagai Kepala Kantor Komunikasi Presiden, seringkali melakukan blunder politik dan menuai banyak cibiran masyarakat melalui komunikasi-komunikasi politiknya. Itulah yang kemudian pihak istana, khususnya Presiden Prabowo Subianto menjadi tidak nyaman.

Hal-hal yang terjadi diluar istana seperti banyaknya demo mahasiswa yang memprotes disahkannya RUU TNI, yang harusnya direspon dengan bijak namun malah direspon Hasan Nasbi secara provokatif. Lalu teror politik berupa pengiriman kepala Babi dan kemudian bangkai Tikus pada redaksi Bocor Alus Politik Tempo, tidak dikomentari secara positif dengan mengecam siapapun penerornya, namun Hasan Nasbi malah menyuruh pihak TEMPO untuk memasak kepala Babi tsb.

Komunikasi politik Hasan Nasbi yang buruk seperti demikian, tentu saja menjadikan ia seperti duri dalam daging atau krikil dalam sepatu Pemerintahan Prabowo Subianto, itulah sebabnya kemudian Hasan Nasbi posisinya “dikunci” oleh pihak istana, kemudian Hasan Nasbi merasa tak berkutik, pengab lalu dengan terpaksa keluar istana atau mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Kantor Komunikasi Presiden (PCO).

Kedua, dengan banyaknya kekecewaan masyarakat, wabil khusus para tokoh akademisi, mahasiswa hingga jenderal-jenderal purnawirawan TNI terhadap kinerja Pemerintahan Prabowo Subianto yang diakibatkan oleh tidak cakapnya kinerja Wakil Presidennya, yakni Gibran Rakabuming Raka, serta terlalu banyak ikut campurnya Jokowi terhadap jalannya roda Pemerintahan Prabowo, ini mengakibatkan Presiden Prabowo berpikir serius untuk segera mengganti para pejabat negara yang tidak kompeten, kemudian mencari orang-orang yang tepat menggantikan posisinya, dimana orang tersebut tidak ada “irisan” dengan Jokowi ataupun Wapres Gibran.

Ketiga, Presiden Prabowo Subianto yang berlatar belakang militer serta sangat menggemari ilmu inteligent bersama kecakapan taktik dan strateginya, tentu telah banyak mendapatkan masukan dari para orang-orang terdekatnya, bahwa Jokowi apalagi Gibran sudah mulai semakin banyak ditinggalkan oleh para pendukungnya, yang sudah berkali-kali merasakan “dikadali” oleh Jokowi dengan berbagai macam janjinya.

Banyak orang yang semula merasa dekat dan diperhatikan oleh Jokowi, rupanya hanya dikenyangkan oleh janjinya yang tak pernah ditepati, lalu diam-diam mereka bergabung dengan kelompok perlawanan di bawah tanah (baca: Gerilyawan Politik-Pen.).

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *