Apalagi, penyakit yang diderita Tio tidak main-main, yakni kanker.
“Jadi kalau misalnya sudah terjadwal, misalnya hari Selasa tanggal 11 Februari, ya sudah penanganan hari Selasa itu. Seumpama bergeser, jadi hari Kamis misalnya tanggal 13 Februari, ya itu nanti akan berubah lagi keadanya. Karena namanya penyakit kanker dengan virus-virus kanker yang luar biasa ganas itu akan berakibat dan berisiko,” ujar Army.
“Termasuk dampak dari proses penyembuhan melalui radiologi. Itu mempengaruhi dari organ-organ tubuh yang di dalam. Sehingga penanganannya harus tepat, harus pas, dan proporsional.”
“Sehingga kalau misalnya meleset dari tanggal, misalnya jadwal besok ya tanggal 17 Februari, masih dicekal, ya sesuai dengan apa yang saya bilang kemarin, mudah-mudahan Bu Tio masih sehat-sehat saja. Tapi jika tidak, ya publik tahu siapa yang harus bisa disalahkan,” tegasnya.
Dia pun menjelaskan, soal motivasi mengajukan gugatan perdata kepada penyidik KPK Rossa Purbo Bekti ke PN Bogor.
“Kami melihat bahwa apa lagi yang harus dilakukan, apa lagi yang harus Bu Tio terima. Karena sejatinya Bu Tio adalah manusia merdeka, sejatinya apa yang dilakukan oleh oknum penyidik KPK yang namanya Bapak Rossa Purbo Bekti, ya terus terang. Artinya pelanggaran hak asasi manusia atas dasar kesehatan dan hidup layak,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, suami Tio, Adrial Wilde juga mengungkapkan kondisi istrinya yang tengah menjalani pengobatan di China. Dimana, Tio dalam kondisi lemah karena belum pulih dari pengobatan awal.
Apalagi, kata Adrial, istirnya harus kembali menjalani pengobatan di China pada 17 Februari untuk menyembuhkan penyakit kankernya.
“Jadi dalam kondisi sekarang ini sebenarnya saat sedang pulih ini memang masih ada kondisi yang mudah lelah. Jadi seperti kemarin pun juga pulang kemudian lelah, ya Sabtu Minggu nampaknya masih belum ada tenaganya,” ujar Adrial.
“Jadi hari ini pun sekarang sedang dirawat juga untuk bisa staminanya itu bisa cukup kuat untuk itu,” jelasnya.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











