Pasar Kramat Jati memiliki 1.803 tempat usaha dan menghasilkan sekitar enam ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 hingga 80 persen merupakan sampah organik, seperti sisa sayuran, buah-buahan, daun, dan makanan.
Jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, serta gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Gubernur Pramono menegaskan pasar tradisional memiliki peran strategis dalam pengurangan sampah kota. Pengelolaan sampah di pasar harus dilakukan secara lebih terukur dan tidak lagi hanya bergantung pada pengangkutan ke tempat pengolahan akhir.
“Pengolahan sampah organik menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pasar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Kami ingin pasar-pasar di Jakarta tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga menjadi ruang publik yang nyaman dan ramah lingkungan,” katanya.
Peninjauan ini juga menjadi bagian dari tindak lanjut Gerakan Pilah Sampah yang telah dimulai pada 10 Mei 2026. Gubernur Pramono menilai keterlibatan masyarakat, pedagang, pengelola pasar, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam memperkuat pengelolaan sampah dari sumber.
“Gerakan pilah sampah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pengelolaan sampah dari sumber menjadi langkah penting agar permasalahan sampah di Jakarta dapat ditangani secara lebih efektif,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dan Perumda Pasar Jaya menjadi kunci dalam memperluas penerapan pasar hijau di Jakarta. Program ini diharapkan dapat membangun sistem pengelolaan sampah pasar yang lebih modern, efektif, dan berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar upaya membuang sampah, melainkan mengubah limbah menjadi aset yang memiliki manfaat ekologis dan ekonomis. Pemprov DKI Jakarta berkomitmen terus menghadirkan inovasi pengelolaan lingkungan demi mewujudkan Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan,” pungkas Gubernur Pramono. (OTN-Deman)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












