Maka kedekatan kerja antara Prabowo Subianto dan Teddy Indra Wijaya bukan skandal. Yang menjadi skandal justru adalah upaya sistematis mengubah relasi profesional menjadi bahan fitnah publik tanpa bukti apa pun.
Ini bukan sekadar serangan kepada dua individu, tapi serangan terhadap martabat institusi kepresidenan Indonesia.
Ketika seorang Presiden dapat dihantam dengan insinuasi personal tanpa dasar, maka standar diskusi publik sedang diturunkan ke titik paling dangkal.
Politik tidak lagi berbicara tentang ekonomi, pangan, pertahanan, lapangan kerja, atau masa depan negara, tetapi tentang rumor, gosip, dan pembunuhan karakter.
Publik Indonesia harus menyadari bahwa fitnah politik selalu bekerja dengan pola yang sama. Tuduhan dilempar setinggi mungkin, lalu bukti tidak pernah datang. Tetapi kerusakan reputasi diharapkan tetap tinggal. Ini adalah teknik propaganda klasik. “Lempar lumpur sebanyak mungkin, sebagian pasti menempel.”
Karena itu, yang sedang diuji hari ini bukan hanya nama Prabowo Subianto dan Teddy Indra Wijaya, tetapi kedewasaan demokrasi Indonesia sendiri. Apakah bangsa ini akan membiarkan ruang publik dipenuhi fitnah murahan, atau tetap menjaga standar bahwa tuduhan harus dibuktikan?
Jika ada dugaan pelanggaran hukum, bawa bukti. Jika ada dugaan penyalahgunaan jabatan, buka datanya. Jika ada dugaan korupsi, laporkan transaksinya. Tetapi jika yang tersisa hanya insinuasi personal tanpa dasar, maka publik berhak menyimpulkan bahwa tuduhan itu lahir bukan dari kekuatan argumen, melainkan dari keputusasaan politik.
Sejarah demokrasi selalu menunjukkan hal yang sama. Pemimpin yang diserang dengan fitnah personal biasanya bukan karena lemah, tetapi karena dianggap terlalu kuat untuk dilawan secara substantif.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed






