Menurut Arief, tantangan PAM JAYA tidak hanya pada perluasan cakupan layanan, tetapi juga pada upaya menekan tingkat non-revenue water (NRW). Tantangan tersebut semakin kompleks karena Jakarta merupakan kota padat dengan karakter infrastruktur bawah tanah yang dinamis.
“Pengurangan NRW menjadi salah satu pekerjaan besar PAM JAYA. Tantangannya tidak sederhana karena kepadatan bangunan, jaringan utilitas yang kompleks, serta kebutuhan layanan yang terus meningkat. Karena itu, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Bin Zayed International, penting untuk membuka peluang dukungan teknologi, investasi, dan pengalaman internasional yang relevan bagi Jakarta,” jelasnya.
Selain pengembangan SPAM, Bin Zayed International juga menyatakan minat terhadap pembangunan infrastruktur strategis Jakarta, termasuk potensi keterlibatan dalam proyek Giant Sea Wall. Ketertarikan ini sejalan dengan upaya transformasi Jakarta sebagai kota global yang membutuhkan infrastruktur besar, tangguh, dan berkelanjutan.
“Penandatanganan NDA ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan pintu masuk untuk memastikan setiap proses kerja sama berjalan profesional, akuntabel, dan berbasis kajian matang. PAM JAYA akan terus menjaga prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta kepentingan warga Jakarta sebagai prioritas utama,” pungkas Arief.
PAM JAYA sebelumnya juga menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak dari negara lain, di antaranya Turki dan Swiss, untuk menjajaki peluang kerja sama, pertukaran pengetahuan, serta pemanfaatan teknologi terkini guna mendukung peningkatan operasional dan kualitas layanan air bersih di Jakarta. (OTN-Deman)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












