Menurut Heri, perjuangan KAA bertujuan menciptakan tatanan dunia baru yang adil, bukan sekadar pengelompokan ekonomi Utara dan Selatan.
Imperialisme Modern dan Ketegangan di Asia Barat
Senada dengan Heri, pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman menilai peringatan Bung Karno soal “baju baru” imperialisme kini terbukti di kawasan Asia Barat (Timur Tengah). Kolonialisme modern saat ini tampil dalam bentuk dominasi ekonomi, intelektual, dan penguasaan material.
Dina menyoroti posisi strategis Iran sebagai simbol perlawanan terhadap imperialisme global. Ia menyebut surat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kepada Pemimpin Tertinggi Iran sebagai pesan diplomatik yang kuat.
“Surat itu bukan sekadar duka cita, melainkan pernyataan posisi bahwa kita masih memegang semangat anti-imperialisme. Iran saat ini dipandang sedang melawan imperialisme global,” ujar Dina.
Ia menambahkan, ketegangan di Selat Hormuz bukan hanya soal militer, melainkan ancaman nyata bagi ketahanan pangan dunia karena 40 persen pasokan urea global melewati jalur tersebut. Situasi ini, menurut Dina, mempercepat transisi dunia dari sistem unipolar yang didominasi satu kekuatan menuju sistem multipolar yang lebih seimbang.
“Ketika lembaga internasional seperti PBB tidak lagi efektif menangani konflik, akan muncul kekuatan baru yang mendobrak tatanan lama demi sistem yang lebih adil,” pungkasnya.
Diskusi ini turut dihadiri oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah, sejarawan Bonnie Triyana, serta jajaran kader partai secara daring dan luring. Hadir juga akademi serta aktivis seperti Sejarawan Asvi Warman Adam dan Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












