JAKARTA, OTONOMINEWS.ID – Mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Heri Akhmadi, menyayakan bahwa gagasan Konferensi Asia-Afrika (KAA) bukanlah produk instan, melainkan hasil perenungan panjang Bung Karno sejak masa pra-kemerdekaan.
Hal ini ia sampaikan dalam diskusi “71 Tahun Peringatan KAA: Relevansi Gerakan Asia-Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” yang digelar DPP PDI Perjuangan di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Sabtu (18/4/2026).
Heri menyebut kepeloporan Indonesia dalam membentuk tatanan dunia baru telah diakui secara global, termasuk dalam buku Revolusi: Indonesia and the Birth of the Modern World karya David Van Reybrouck. Namun, ia menyayangkan sikap pemerintah saat ini yang terkesan mengecilkan momentum sejarah tersebut.
“Tahun 2025 adalah peringatan 70 tahun Dasasila Bandung. Namun, pemerintah justru membatalkan peringatan besar dengan alasan pemotongan anggaran,” ungkap Heri.
Padahal, menurutnya, KAA adalah modalitas pokok politik luar negeri Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinan di panggung internasional.
Gugatan Terhadap Istilah ‘Global South
Selain masalah anggaran, Heri mengkritik tren global yang mulai menggeser terminologi “Asia-Afrika” menjadi konsep ‘Global North’ dan ‘Global South’. Ia menilai pergeseran ini bisa mengaburkan esensi perjuangan negara-negara bekas jajahan.
“Jika konteksnya berubah menjadi *North* dan *South*, hal itu menjadi tidak relevan lagi dengan apa yang diperjuangkan Bung Karno. Kita harus mengembalikan istilah Asia-Afrika untuk menjaga semangat solidaritas negara-negara yang pernah dijajah,” tegasnya.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












