JAKARTA, FAKTANASION.NET – Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) DKI Jakarta menyampaikan duka cita mendalam, sekaligus kecaman keras atas gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon akibat serangan tentara Israel (IDF).
Ketua DPD GMNI DKI Jakarta, Deodatus Sunda Se (Dendy Se), menilai peristiwa tersebit sebagai tamparan keras bagi kedaulatan negara di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Dendy Se, menegaskan Pemerintah saat ini menunjukkan inkonsistensi yang mengkhawatirkan, antara tindakan domestik dan kebijakan luar negeri.
Kritik Terhadap Kepemimpinan Nasional
Dendy Se menyoroti paradoks kepemimpinan Presiden Prabowo yang dinilai represif terhadap suara kritis di dalam negeri, namun cenderung melempem alis “lemah” di hadapan kekuatan asing.
”Presiden Prabowo hanya berani menunjukkan kekuasaan terhadap rakyatnya sendiri. Pengamat, mahasiswa, hingga guru besar diancam akan ditertibkan hanya karena mereka kritis terhadap pelanggaran konstitusi. Ini adalah intimidasi terhadap demokrasi,” tegas Dendy.
GMNI DKI juga menilai sikap Presiden Prabowo cenderung inferior di hadapan agenda politik global.
“Sangat menyedihkan melihat Presiden kita lebih patuh pada kepentingan Trump dan Netanyahu daripada menjaga kehormatan prajuritnya sendiri yang dibunuh oleh agresor,” tambahnya.
Desakan Keluar dari Aliansi Internasional
Menanggapi situasi geopolitik yang memanas, GMNI DKI Jakarta mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah tegas demi menjaga martabat bangsa:
– Keluar dari BOP (Bond of Partners): GMNI menilai BOP hanyalah alat geopolitik untuk melegitimasi agresi. Indonesia didesak keluar agar tidak menjadi instrumen imperialisme modern.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











