Ia menambahkan bahwa kepemimpinan strategis baru akan berdampak nyata jika mampu menggerakkan gerbong institusionalisasi secara menyeluruh.
Karena itu, Hasto juga membedah kunci di balik resiliensi PDI Perjuangan yang bersumber pada kepemimpinan strategis Megawati Soekarnoputri. Kepemimpinan ini bukan sekadar gaya manajerial, melainkan ideologi yang terinstitusionalisasi melalui tujuh indikator utama.
Tujuh indikator itu adalah Berpikir Kritis (Critical Thinking), Visi (Vision), Arahan (Direction), Nilai-Nilai Inti (Core Values), Biopolitik, Keberpihakan (Alignment), Komitmen (Commitment).
Menurut Hasto, perpaduan antara kepemimpinan strategis Megawati dan institusionalisasi partai memungkinkan PDI Perjuangan memiliki sifat yang fleksibel, adaptif, dan memiliki kapasitas bertahan hidup yang tinggi (survival capacity) dalam menghadapi berbagai guncangan internal maupun eksternal.
Dalam forum yang dihadiri oleh tokoh politik seperti Florencio “Butch” Abad dari Filipina dan Chee Soon Juan dari Singapura ini, Hasto menegaskan bahwa kemunduran demokrasi global seringkali dimulai dari pelanggaran norma-norma tidak tertulis oleh pemimpin yang dipilih secara demokratis.
Ia menutup paparannya dengan mengutip pesan Bung Karno tahun 1965: “For fighting a nation, the journey never ends” (Bagi bangsa yang berjuang, perjalanan tidak pernah berakhir). Pesan ini menekankan bahwa institusionalisasi partai adalah misi tanpa henti untuk menjaga marwah demokrasi dan kedaulatan rakyat.
“Ketika seorang pemimpin melakukan kekerasan melalui ancaman, intimidasi, penyebaran ketakutan, dan bahkan kekuatan fisik untuk memaksakan kehendak mereka, pemimpin tersebut cenderung hanya melakukan justifikasi atau pembenaran atas setiap keputusan kebijakan,” ujar Hasto.
“Resiliensi partai bersumber dari semangat juangnya untuk menghadapi pemimpin yang ingin menghancurkan demokrasi,” pungkasnya.
Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dari berbagai negara. Sesi pembukaan dimulai dengan sambutan dari Chairperson CALD yang juga Senator Kamboja, Mardi Seng, bersama Presiden Partai Liberal Filipina, Lorenzo “Erin” Tañada III, serta perwakilan Friedrich Naumann Foundation (FNF), Almut Besold. Forum ini juga mendengarkan pesan video khusus dari Presiden Timor Leste sekaligus penerima Nobel Perdamaian, Jose Ramos-Horta, serta pidato kunci dari Senator Filipina, Francis “Kiko” Pangilinan.
Dalam diskusi panel, Hasto berbagi panggung dengan tokoh politik regional lainnya, seperti mantan Menteri Anggaran Filipina, Florencio “Butch” Abad, dan Sekjen Singapore Democratic Party (SDP), Chee Soon Juan, dalam sesi yang dimoderatori oleh Editor-at-large Rappler, Marites Vitug. Delegasi lain yang turut hadir memberikan perspektif antara lain Lee Boon Shian dari Malaysia, James Gomez dari Asia Centre, dan V Srivarathanabul: Kandidat Anggota Parlemen, Partai Demokrat Thailand.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











