MANILA, OTONOMINEWS.ID – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, menjadi pembicara utama dalam forum internasional Council of Asian Liberals and Democrats (CALD) di Makati, Filipina, Jumat (27/03/2026).
Dalam paparan bertajuk “The Institutionalization of Political Parties, Resilience, and Strategic Campaigns”, Hasto membedah bagaimana institusionalisasi organisasi menjadi kunci utama sebuah partai politik mampu bertahan menghadapi guncangan kekuasaan yang luar biasa.
Dii hadapan para delegasi internasional, Hasto secara spesifik menyoroti fenomena ambisi kekuasaan yang ia istilahkan sebagai Triangle of Authoritarian Populism (Segitiga Populisme Otoriter).
Berdasarkan penelitian disertasinya di Universitas Indonesia, Hasto menjelaskan bahwa segitiga ini dibangun di atas tiga pilar: feodalisme, populisme, dan Machiavellianisme.
“Segitiga ini memanfaatkan penyalahgunaan kekuasaan dan sumber daya negara untuk menciptakan persaingan elektoral yang tidak seimbang,” ujar Hasto.
Ia mengungkapkan bahwa PDI Perjuangan secara empiris telah diuji oleh model kekuasaan ini pada Pemilu 2024.
Hasto memaparkan data bahwa meski harus menghadapi tekanan sistematis, mulai dari mobilisasi bantuan sosial (bansos) dan program populis lainnya yang mencapai sekitar USD 31 miliar (sekitar Rp490 triliun) hingga intimidasi aparat penegak hukum yang menjangkau level pedesaan, PDI Perjuangan tetap mampu bertahan dan keluar sebagai pemenang Pemilu Legislatif 2024, bahkan di tingkat kabupaten kota, kursi bertambah 14 kursi secara total..
“Inilah bukti nyata dari resiliensi atau daya tahan partai yang telah terinstitusionalisasi,” tegasnya.
Hasto memberikan perspektif menarik dengan membandingkan resiliensi politik dan korporasi. Ia mencontohkan bagaimana institusi keuangan global seperti Citibank mampu bertahan selama ratusan tahun. Hasto menekankan bahwa keberhasilan tersebut bukan semata-mata karena individu, melainkan karena adanya core ideology dan keputusan pemimpinnya untuk melakukan pelembagaan organisasi.
Dijelaskannya, Citibank mampu bertahan karena memiliki ideologi customer intimacy yang diturunkan secara sistemik ke dalam cara kerja lembaga.
“Maka seorang pemimpin hebat sekalipun, jika dia tidak percaya pada sistem dan tidak melakukan pelembagaan organisasi, maka kepemimpinannya tidak akan berkorelasi pada ketahanan organisasi tersebut,” jelas Hasto.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











