Mengejar Target Pertumbuhan 8 Persen, Pemerintah Wajib Lakukan 5 Langkah Ini

Mengejar Target Pertumbuhan 8 Persen, Pemerintah Wajib Lakukan 5 Langkah Ini
Ir. R Haidar Alwi, MT.
120x600
a

Kedua, industrialisasi nyata, bukan sekadar jargon. Strategi hilirisasi harus bertransformasi menjadi industrialisasi yang utuh. Selama ini, ekonomi kita masih sangat bergantung pada volatilitas harga komoditas.

Tanpa transisi menuju manufaktur bernilai tambah tinggi—seperti elektronik, permesinan, dan integrasi rantai pasok global—pertumbuhan akan terus terjebak dalam siklus naik-turun yang monoton.

Ketiga, ekspor sebagai mesin utama. Saat ini, orientasi ekonomi Indonesia masih terlalu ke dalam (inward-looking). Meski ekspor diprediksi tumbuh sekitar 7 persen pada 2025 (BPS), kontribusinya terhadap struktur ekonomi masih terbatas jika dibandingkan dengan Vietnam yang menjadikan ekspor sebagai tulang punggung nasional.

Tanpa perubahan orientasi ke pasar global, pertumbuhan tinggi akan sulit dicapai dan dipertahankan.

Baca Juga :  Haidar Alwi Tegaskan Rakyat Bantu Rakyat Menjadi Fondasi Ekonomi Purbaya dan Polri Presisi

Keempat, akselerasi produktivitas tenaga kerja. Indonesia memiliki kuantitas tenaga kerja yang melimpah, namun lemah secara produktivitas. Mayoritas pekerja masih terjebak di sektor informal dengan nilai tambah rendah.

Tanpa migrasi besar-besaran tenaga kerja ke sektor industri dan jasa modern, bonus demografi hanya akan menambah jumlah pekerja tanpa meningkatkan output ekonomi secara signifikan.

Kelima, reorientasi kebijakan fiskal. Selama ini, belanja negara cenderung bersifat defensif untuk menjaga daya beli. Meski penting demi stabilitas sosial, untuk mencapai target 8 persen, APBN harus lebih agresif dialokasikan ke sektor produktif: penguatan industri, penguasaan teknologi, serta riset dan pendidikan.

Baca Juga :  Haidar Alwi Dukung Komisi III DPRD Kaltim Perjuangkan Izin Pertambangan Rakyat

APBN harus menjadi mesin pendorong pertumbuhan, bukan sekadar bantalan konsumsi.

Oleh karena itu, pertumbuhan 8 persen tidak bisa dicapai dengan cara-cara biasa (business as usual). Ia membutuhkan keberanian untuk merombak struktur ekonomi—dari konsumsi ke produksi, dari domestik ke global, dan dari stabilitas ke ekspansi.

Selama 20 tahun, Indonesia telah membuktikan diri sebagai ekonomi yang resilien dengan rata-rata pertumbuhan jangka panjang di angka 4,7–4,9 persen. Namun, stabilitas tersebut kini menjadi batas tak terlihat yang membelenggu potensi kita.

Tantangan besar Indonesia hari ini bukanlah sekadar bertahan untuk tumbuh, melainkan berani keluar dari zona nyaman 5 persen dan membangun mesin baru yang mampu melaju dua kali lebih cepat.

Baca Juga :  Nilailah Kinerja Polri dengan Kejernihan Hati

Jakarta, 23 Maret 2026

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 5 / 5. Vote count: 1

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *