Mengejar Target Pertumbuhan 8 Persen, Pemerintah Wajib Lakukan 5 Langkah Ini

Mengejar Target Pertumbuhan 8 Persen, Pemerintah Wajib Lakukan 5 Langkah Ini
Ir. R Haidar Alwi, MT.
120x600
a

Oleh: R. HAIDAR ALWI (Cendikiawan/Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB)

SELAMA dua dekade terakhir, ekonomi Indonesia bergerak layaknya mesin yang tangguh—stabil, namun lamban. Sejak 2004, pertumbuhan tertahan di kisaran 5 persen, hanya sesekali menyentuh angka 6 persen saat terjadi lonjakan harga komoditas (commodity boom), sebelum akhirnya kembali melandai.

Bahkan pascapandemi, ketika ekonomi sempat terkontraksi ke –2,07 persen pada 2020, pemulihan hanya membawa Indonesia kembali ke “habitat lamanya” di angka 5 persen. Pada 2024, ekonomi tumbuh 5,03 persen, dan diproyeksikan sedikit naik menjadi 5,11 persen pada 2025.

Target 8 persen, oleh karena itu, bukan sekadar angka ambisius. Ia adalah tuntutan lompatan struktural—sesuatu yang belum pernah dicapai Indonesia secara konsisten dalam 20 tahun terakhir.

Baca Juga :  Haidar Alwi Tegaskan Rakyat Bantu Rakyat Menjadi Fondasi Ekonomi Purbaya dan Polri Presisi

Persoalannya bukan pada minimnya program. Pemerintah cukup piawai meluncurkan bantuan sosial, subsidi, hingga program makan bergizi gratis. Instrumen tersebut efektif menjaga konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh PDB.

Data menunjukkan bahwa konsumsi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, termasuk pada 2025 yang dipicu oleh belanja masyarakat dan stimulus fiskal.

Namun, konsumsi hanya menjaga mesin tetap berderu, bukan memacunya melaju lebih kencang.

Untuk mencapai 8 persen, Indonesia membutuhkan perubahan fundamental pada “mesin” pertumbuhannya melalui lima pilar utama.

Pertama, lonjakan investasi yang drastis. Saat ini, rasio investasi Indonesia berada di kisaran 30 persen terhadap PDB. Angka ini cukup untuk menjaga pertumbuhan di level 5 persen, tetapi mustahil untuk mencapai 8 persen.

Baca Juga :  Haidar Alwi Dukung Komisi III DPRD Kaltim Perjuangkan Izin Pertambangan Rakyat

Negara-negara yang pernah mencatat pertumbuhan fenomenal, seperti Tiongkok dan Vietnam, mendorong investasi hingga 35–40 persen dari PDB. Tanpa lompatan investasi yang agresif, ruang pertumbuhan tambahan tidak akan pernah terbuka.

Namun, masalah utama Indonesia bukan sekadar kekurangan modal, melainkan tingginya angka ICOR (Incremental Capital Output Ratio). Angka ICOR Indonesia yang masih berada di kisaran 6 menunjukkan inefisiensi yang tinggi. Artinya, kita butuh modal besar hanya untuk menghasilkan sedikit pertumbuhan.

Negara tetangga dengan pertumbuhan agresif biasanya memiliki ICOR di bawah 4. Tanpa perbaikan birokrasi, pemberantasan korupsi, dan penurunan biaya logistik untuk menekan ICOR, investasi sebesar apa pun akan “menguap” sebelum sempat memacu mesin ekonomi ke angka 8 persen.

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *