“Nantinya, masyarakat dapat langsung mengakses air minum secara gratis dari fasilitas tersebut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, prinsip kerja teknologi tersebut sebenarnya juga seperti proses kondensasi pada pendingin ruangan atau AC. Dalam proses tersebut, uap air di udara ditangkap lalu dikondensasikan hingga menghasilkan air.
Namun pada teknologi yang akan digunakan PAM Jaya, prosesnya dilakukan secara lebih khusus untuk menangkap kandungan air di atmosfer dalam skala yang lebih besar. Air yang dihasilkan dapat langsung diminum oleh masyarakat tanpa perlu pengolahan tambahan.
Rencana pembangunan water hub saat ini masih dalam proses perizinan dan koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia menyebut, persetujuan dari Gubernur DKI Jakarta serta instansi terkait seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) telah diperoleh.
“Pembangunan fasilitas tersebut dapat segera dimulai pada tahun ini. Targetnya, proses peletakan batu pertama atau groundbreaking dapat dilakukan pada pertengahan tahun 2026,” katanya.
Ia menambahkan, selain untuk kebutuhan perkotaan, PAM Jaya juga menyiapkan versi mobile dari teknologi tersebut. Perangkat mobile ini nantinya dapat digunakan dalam kondisi darurat untuk menghasilkan air minum di lokasi yang tidak memiliki sumber air.
Ditambahkan Arief, konsep ini mirip dengan water treatment plant (WTP) mobile yang sebelumnya pernah dikirim PAM Jaya ke Aceh untuk membantu pengolahan air.
Namun berbeda dengan WTP yang masih membutuhkan air sungai sebagai bahan baku, perangkat mobile berbasis atmosfer dapat langsung menghasilkan air dari udara.
“Saat ini PAM Jaya telah melakukan pemesanan perangkat tersebut dan sedang dalam tahap kerja sama dengan penyedia teknologi.”
“Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, teknologi ini ditargetkan tiga sampai empat bulan ke depan sudah bisa kami tunjukkan kepada gubernur untuk kemudian disampaikan kepada masyarakat,” tandasnya. (OTN-Deman)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











