Ketiga, Krisis Ekonomi: Dolar Meroket dan IHSG Rontok
Bung Dendy menganalisis bahwa ketegangan global menghantam langsung jantung ekonomi rakyat. Ketidakpastian global membuat investor lari ke aset aman (safe haven), menyebabkan Rupiah melemah tajam, dan meningkatkan beban utang luar negeri serta biaya impor secara eksponensial.
Di sektor finansial, Dendy mengatakan bahwa IHSG rontok akibat panic selling massal, sementara sektor manufaktur dan konsumsi hancur karena kenaikan biaya produksi yang tak terkendali.
“Dengan terganggunya logistik global, harga pangan dalam negeri meroket akibat inflasi energi, memaksa pemerintah melakukan efisiensi ekstrem pada berbagai program sosial,” ungkap Bung Dendy.
Keempat, Bom Waktu Utang Rp833 Triliun di Tahun 2026
Krisis fiskal Indonesia diperparah oleh tumpukan utang yang harus dibayar tepat saat badai ekonomi menghantam.
Menurut Bung Dendy, 2026 menjadi periode paling kritis dalam sejarah, karena pemerintah menghadapi jadwal pembayaran utang jatuh tempo yang melonjak drastis hingga Rp833 triliun.
Kondisi ini diperburuk oleh pelemahan Rupiah ke level yang mengkhawatirkan (di atas Rp16.800 per Dolar AS), sehingga nilai pembayaran cicilan utang luar negeri membengkak seketika.
“Demi menjaga kepercayaan investor asing dan menghindari risiko gagal bayar (default), pemerintah terpaksa memprioritaskan pembayaran bunga dan pokok utang di atas program kesejahteraan rakyat,” tegas Dendy.
Kesimpulan: Mengapa MBG Dikorbankan?
Bung Dendy menjelaskan bahwa pembatalan atau pengurangan drastis anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah konsekuensi logis dari posisi Indonesia yang terjepit.
Ia menilai di bawah bayang-bayang kebijakan Trump, Indonesia terikat pada perjanjian dagang ART yang berat sebelah dan beban utang yang menguras napas APBN.
Ia menilai sikap “diam” Presiden Prabowo dan Gibran mencerminkan realitas pahit: kedaulatan nasional sedang bertekuk lutut di bawah kendali utang internasional dan ketergantungan energi.
“MBG bukan sekadar janji yang diingkari, melainkan simbol bahwa rakyat dipaksa mengalah demi menjaga stabilitas angka-angka di buku utang negara,” tuntas Bung Dendy.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











