Bahkan jika kapal perang berhasil mengawal beberapa tanker, banyak perusahaan pelayaran mungkin tetap memilih menunda pengiriman hingga risiko keamanan benar-benar menurun.
Secara strategis, Iran juga tidak harus menutup selat secara permanen untuk mengganggu pasar energi.
Dengan doktrin perang laut asimetris, gangguan kecil seperti serangan drone, ranjau laut, atau ancaman rudal anti-kapal sudah cukup untuk menciptakan ketidakpastian besar bagi pelayaran komersial.
Dalam pasar minyak yang sangat sensitif terhadap risiko geopolitik, ketidakpastian semacam ini saja sudah cukup untuk mendorong lonjakan harga.
Bagi pasar energi global, pengerahan militer AS ke Selat Hormuz dapat dibaca sebagai tanda bahwa gangguan pasokan berpotensi berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
Ketika jalur energi utama dunia membutuhkan intervensi militer untuk tetap terbuka, pasar cenderung memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Implikasinya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk, tetapi juga oleh negara-negara importir energi di Asia.
Lonjakan harga minyak dapat memicu kenaikan harga bahan bakar, meningkatkan tekanan inflasi, serta memperbesar beban fiskal bagi negara yang masih memberikan subsidi energi.
Dengan demikian, pengiriman pasukan AS ke Selat Hormuz bukan sekadar operasi pengamanan maritim. Langkah tersebut juga mencerminkan bahwa jalur energi paling penting di dunia sedang berada dalam tekanan geopolitik yang serius.
Alih-alih menandakan bahwa krisis segera berakhir, pengerahan militer justru bisa menjadi indikator bahwa dunia sedang memasuki fase krisis energi yang lebih dalam.
Jakarta, 4 Maret 2026
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed









