“Kita tidak boleh menutup mata terhadap mereka yang terdampak. Pemerintah harus hadir melalui pelatihan, pembiayaan, dan dukungan agar mereka dapat beralih ke usaha tekstil lokal atau ekonomi kreatif berbasis daur ulang,” jelas politisi PKS asal Sumatera Barat II itu.
Lebih lanjut, Nevi menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap impor ilegal dan penguatan sinergi antara Bea Cukai, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Perindustrian. Ia juga mendorong pemerintah untuk membangun ekosistem industri sirkular, di mana limbah tekstil dalam negeri dapat diolah kembali menjadi produk bernilai tambah.
“Larangan thrifting seharusnya menjadi titik balik bagi industri tekstil nasional untuk bertransformasi ke era manufaktur 4.0 — efisien, inovatif, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Nevi Zuairina menekankan bahwa perlindungan industri harus berjalan seiring dengan keberpihakan kepada rakyat kecil.
“Revitalisasi industri bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal keadilan. Kita ingin industri nasional tumbuh kuat tanpa meninggalkan mereka yang lemah,” pungkasnya.(Ridwan/*)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed











