Haidar Alwi menilai pandangan Ferry soal hubungan antara money supply dan bunga adalah logika masa lalu.
“Purbaya bekerja di dua kanal: risk channel dan term-premium channel. Di risk channel, risiko diturunkan melalui penjaminan. Di term-premium channel, pasar keuangan diperdalam lewat repo dan SBN agar volatilitas menurun. Ketika dua kanal ini stabil, bunga turun tanpa perlu perintah,” jelas Haidar Alwi.
Inilah keunggulan pendekatan modern: mengubah pasar dari ruang ketakutan menjadi ruang rasionalitas.
“Ferry latuhihin masih mengukur bunga dari tower moneter, sedangkan Purbaya mengukurnya dari fondasi risiko. Itulah bedanya ekonom yang melihat dari atas dan pemimpin yang bekerja dari bawah,” kata Haidar Alwi.
Capital Flight Ditangani dengan Desain, Bukan Panik.
Ferry latuhihin mengingatkan risiko capital flight ketika uang keluar dari rupiah menuju dolar. Haidar Alwi menjelaskan bahwa Purbaya mengelola isu itu dengan strategi terukur melalui kerangka Integrated Policy Framework.
“Purbaya memperkuat DNDF onshore, memperluas hedging murah, dan menjaga devisa hasil ekspor tetap di dalam negeri. Ketika biaya lindung nilai lebih rendah dari risiko valas, pasar akan memilih bertahan,” papar Haidar Alwi.
Strategi ini menciptakan stabilitas nilai tukar tanpa kontrol modal. “Kita tidak menahan uang dengan ketakutan, tetapi dengan kepercayaan. Itulah ekonomi yang sehat,” tegas Haidar Alwi.
Insentif Modal Luar Negeri: Repatriasi Dengan Inovasi.
Haidar Alwi menilai Ferry latuhihin keliru memandang repatriasi dana luar negeri sebagai kebijakan pajak biasa.
“Purbaya tidak sekadar memberi potongan pajak, tapi menciptakan rumah bagi dana itu. Melalui obligasi USD, green sukuk, dan infrastructure notes, ia memberi jalan agar modal kembali tanpa mengguncang kurs,” kata Haidar Alwi.
Uang yang kembali ke tanah air, akan memperkuat pembiayaan proyek infrastruktur dan transisi energi.
“Uang tidak akan pulang karena dipaksa, tapi karena merasa aman dan bermanfaat. Itulah yang sedang dibangun Purbaya, rasa aman yang produktif,” ujar Haidar Alwi.
Multiplier Efek Lebih Dalam dari Sekadar Angka.
Ferry latuhihin memperkirakan multiplier efek dana Rp200 triliun hanya 0,11 persen. Haidar menilai perhitungan itu terlalu dangkal.
Multiplier, lanjut Haidar, tidak hanya dihitung dari peredaran dana, tapi dari efek leverage dan kandungan lokal.
“Dana publik bisa menarik dana privat lima kali lipat lewat skema risk sharing, dan peningkatan kandungan lokal memperbesar efek ekonomi domestik.”
Haidar Alwi menambahkan, kebijakan Purbaya adalah fiscal geometry: mengatur arah uang, bukan hanya jumlahnya.
Baginya, Purbaya menghitung nilai sosial dari setiap rupiah, berapa pekerjaan diciptakan, berapa industri lokal tumbuh, berapa kemandirian terbentuk. Inilah multiplier sejati yang tidak bisa dihitung dengan kalkulator.
Arah Baru Ekonomi Nasional dan Optimisme Rakyat.
Bagi Haidar Alwi, esensi kebijakan Purbaya Yudhi Sadewa terletak pada keberanian mengubah paradigma ekonomi nasional.
“Purbaya tidak sedang memoles statistik, tapi sedang menulis ulang logika ekonomi Indonesia agar lebih berdaulat,” ungkapnya.
Lebih jauh Haidar Alwi menilai structured fiscal leverage yang dijalankan Purbaya adalah sinergi disiplin fiskal, moneter, dan inovasi publik yang menjadikan ekonomi tahan krisis. Haidar Alwi mengajak masyarakat untuk tetap optimistis dan tidak termakan narasi pesimisme.
“Kita sedang membangun ekonomi yang bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk melangkah lebih jauh. Percayalah, arah yang benar mungkin tidak cepat, tapi pasti membawa bangsa ini berdiri tegak,”
Menurut Haidar Alwi, rakyat perlu melihat bahwa di balik angka-angka ada arah besar: ekonomi yang berdikari dan tidak tunduk pada ketakutan global.
Ketika rakyat yakin bahwa pemerintah bekerja dengan logika yang benar, maka kepercayaan berubah menjadi energi. Dan energi itulah yang menggerakkan bangsa.
Haidar Alwi menyampaikan pesan yang merangkum keseluruhan analisisnya dengan cara yang tajam dan penuh keyakinan.
“Ferry Latuhihin menggunakan kalkulator untuk menghitung masa lalu, sedangkan Purbaya Yudhi Sadewa menggunakan desain untuk membangun masa depan. Ekonomi tidak tumbuh karena uang, tetapi karena kepercayaan yang diciptakan oleh kebijakan yang berani, cerdas, dan berpihak kepada rakyat,” pungkas Haidar Alwi.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed









