Haidar Alwi Ungkap Kedangakalan Pandangan Ferry Latihihin terkait Kebijakan Fiskal Purbaya

Haidar Alwi Ungkap Kedangakalan Pandangan Ferry Latihihin terkait Kebijakan Fiskal Purbaya
Ir. R. Haidar Alwi, MT.
120x600
a

JAKARTA, OTONOMINEWS.ID – Pemikir Kebangsaan, Ir. R. Haidar Alwi, memberi tanggapan kritis atas pandangan pengamat ekonomi, Ferry Latuhihin yang disampaikan dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) Karni Ilyas.

Menurut Haidar, pandangan Ferry Latihihin tentang kebijakan fiskal Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum menggambarkan kompleksitas arsitektur ekonomi nasional yang sedang dibangun.

Haidar menilai Ferry hanya membaca permukaan angka, sedangkan Purbaya bekerja pada tingkat desain risiko, efisiensi modal, dan kredibilitas pasar.

“Kritik yang hanya melihat angka ibarat menilai kapal dari catnya, bukan dari arah layarnya,” kata Haidar Alwi.

Ferry Latuhihin menilai bahwa penyaluran dana Rp200 triliun hanya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,06–0,11 persen karena ICOR Indonesia masih tinggi di kisaran 6,7.

Ia juga menilai sektor perbankan tengah lesu, bunga sulit turun, dan insentif repatriasi dana luar negeri tidak efektif.

Nah, bagi Haidar Alwi pandangan Feryy itu terlalu sempit dan mengabaikan konteks kebijakan struktural jangka panjang yang sedang dilakukan Purbaya Yudhi Sadewa.

“Ferry Latuhihin menghitung uang dari sisi kuantitas, Purbaya menghitung dari sisi kualitas. Itulah perbedaan antara pengamat dan perancang,” ujar Haidar Alwi.

Baca Juga :  Haidar Alwi Kecam Wacana Polri di Bawah Kementerian, Ilusi Perubahan!

ICOR Adalah Variabel, Bukan Dogma.

Menurut Haidar Alwi, Ferry latuhihin masih menggunakan pendekatan lama di mana ICOR dianggap angka absolut. Padahal, Purbaya Yudhi Sadewa justru memperlakukan ICOR sebagai variabel yang bisa direkayasa melalui peningkatan efisiensi dan produktivitas.

“ICOR 6,7 itu hasil dari masa lalu. Purbaya menurunkan ICOR marjinal sektoral melalui sektor berdaya saing tinggi seperti logistik, energi terbarukan, dan hilirisasi mineral,” jelas Haidar Alwi.

Dalam teori makroekonomi modern, pertumbuhan tidak lagi hanya ΔY = ΔI/ICOR, melainkan ΔY = ΔA·F(K,L) + (ΔI/ICOR_marjinal), dengan ΔA positif karena adanya peningkatan produktivitas total faktor produksi.

“Kebijakan Purbaya mengubah orientasi dari seberapa banyak uang dikeluarkan menjadi seberapa efisien uang itu bekerja untuk rakyat,” tegasnya.

Ia juga menilai langkah Purbaya merupakan bentuk keberanian intelektual: membangun logika ekonomi yang mandiri dan tidak bergantung pada paradigma lama.

“Inilah karakter Menkeu yang memahami bahwa pembangunan bukan sekadar angka APBN, melainkan arsitektur moral untuk memastikan uang negara benar-benar menjadi energi produktif bagi rakyat,” kata Haidar Alwi.

Baca Juga :  Arah Baru Pemerintahan Prabowo dan Stabilitas Polri Presisi

Dana Rp200 Triliun Bukan Beban, Tapi Katalis Keberanian.

Haidar Alwi menegaskan bahwa Rp200 triliun bukan beban perbankan seperti yang dikatakan Ferry latuhihin , melainkan instrumen katalitik untuk menggerakkan ekonomi.

“Purbaya menurunkan risiko agar bank tidak takut. Ia tidak meminta bank untuk berani, ia menciptakan alasan bagi mereka untuk berani,” ucap Haidar Alwi.

Dalam teori financial accelerator, bunga tinggi muncul karena external finance premium, yaitu selisih biaya dana akibat risiko. Purbaya menurunkan premi itu melalui first-loss guarantee, credit insurance, dan viability gap funding.

“Begitu risiko turun, bunga kredit turun tanpa intervensi moneter. Inilah pendekatan rasional yang membuat pasar bergerak tanpa paksaan,” ujar Haidar Alwi.

Langkah ini bukan kebijakan populis, melainkan sains kebijakan berbasis keberanian.

“Purbaya membuat uang negara menjadi jangkar kepercayaan. Ia tidak mengalirkan dana untuk konsumsi, tapi menyalakannya sebagai mesin keberanian bagi investor nasional,” kata Haidar Alwi.

Undisbursed Loan Adalah Ruang Potensi.

Ferry latuhihin menyoroti adanya Rp2.735 triliun undisbursed loan sebagai bukti lemahnya penyerapan. Haidar Alwi melihatnya justru sebagai ruang potensi.

Baca Juga :  Kapolri Listyo Sigit Raih Penghargaan Bergengsi Berkat Polri Presisi, Ini Kata Haidar Alwi

“Undisbursed bukan uang menganggur, tapi peluang investasi yang menunggu kepastian. Purbaya memperbaiki pipeline proyek melalui project preparation facility dan offtake guarantee agar proyek-proyek strategis menjadi bankable,” jelas Haidar Alwi.

Begitu arus kas dan jaminan proyek tersedia, kredit akan terserap dengan sendirinya.

“Masalah utama perbankan bukan dana, tapi rasa takut. Dan Purbaya sedang menurunkan rasa takut itu dengan logika risiko yang bisa dihitung.”

Haidar Alwi menegaskan, keberhasilan kebijakan bukan diukur dari seberapa cepat dana keluar, tapi seberapa terukur risiko saat dana bekerja.

“Purbaya membangun sistem agar setiap rupiah yang mengalir membawa keyakinan, bukan ketakutan,” kata Haidar Alwi.

Suku Bunga Turun Karena Struktur Risiko, Bukan Likuiditas.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *