Masyarakat perlu waspada terhadap hasutan semacam ini, apalagi di era digital ketika informasi palsu mudah menyebar luas. Seringkali narasi manipulatif disebarkan melalui media sosial dengan framing seolah-olah mewakili suara rakyat banyak.
Padahal, jika diteliti lebih dalam, akun-akun penyebar provokasi tersebut seringkali bersifat anonim atau tidak jelas identitasnya. Bahkan ada kemungkinan sebagian berasal dari bot atau pihak luar yang ingin memperkeruh situasi domestik Indonesia.
“Delegitimasi terhadap pemerintah yang sah tidak hanya merugikan pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat. Ketika stabilitas politik terguncang, hal yang paling terdampak adalah rakyat kecil. Harga bahan pokok bisa naik, lapangan kerja terganggu, dan ekonomi melambat,” papar Haidar Alwi.
Kasus meninggalnya pengemudi ojek online memang tragedi yang harus diusut tuntas. Pemerintah bersama aparat hukum wajib menginvestigasi kejadian ini secara transparan agar tidak menimbulkan risiko berlebih.
“Namun, tragedi ini jangan sampai dijadikan bahan bakar untuk merusak kepercayaan masyarakat terhadap negara,” pinta Haidar Alwi.
Belajar dari sejarah 1998, yang disiarkan secara besar justru menimbulkan korban lebih banyak, termasuk di kalangan masyarakat yang tidak berdosa. Oleh karena itu, generasi sekarang harus mampu berpikir lebih rasional dan tidak mudah terbawa arus hasutan.
Salah satu cara menghadapi upaya delegitimasi adalah dengan memperkuat literasi digital. Masyarakat harus terbiasa memverifikasi informasi, memeriksa sumber berita, dan tidak langsung menyebarkan konten provokatif tanpa dasar yang jelas.
Selain itu, masyarakat juga perlu memahami bahwa perbedaan pendapat dalam demokrasi adalah hal yang wajar. Namun, perbedaan itu harus disalurkan melalui mekanisme yang sah, seperti dialog, musyawarah, atau jalur hukum, bukan dengan cara kekerasan.
“Pemerintah pun dituntut untuk tanggap terhadap aspirasi rakyat. Transparansi dalam komunikasi publik, akuntabilitas kebijakan, serta keadilan hukum menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terhasut narasi delegitimasi,” imbuh Haidar Alwi.
Di sisi lain, aparat keamanan perlu bertindak profesional dalam menjaga keamanan. Tindakan represif yang berlebihan justru akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin memperkuat narasi bahwa pemerintah bersifat otoriter.
Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, aparat, masyarakat sipil, dan media sangat penting untuk menjaga stabilitas nasional. Semua pihak harus memahami bahwa keamanan dan stabilitas politik adalah modal utama untuk melanjutkan pembangunan bangsa.
Pada akhirnya, imbauan kepada seluruh masyarakat agar tetap tenang, waspada, dan tidak terprovokasi oleh upaya delegitimasi pemerintah.
“Indonesia saat ini bukanlah Indonesia 1998. Demokrasi sudah lebih matang, ekonomi lebih kuat, dan masyarakat lebih cerdas. Jangan sampai kepentingan segelintir kelompok merusak masa depan bangsa yang telah kita bangun bersama,” pungkas Haidar Alwi.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












