Haidar Alwi: Candaan Dasco dan Kegaduhan yang Tak Perlu

bedakan kelakar antara provokasi politis!

Otonominews
Haidar Alwi: Candaan Dasco dan Kegaduhan yang Tak Perlu
120x600
a

“Demokrasi yang sehat tidak anti-candaan. Justru keberanian untuk bersikap ringan di tengah tekanan adalah tanda kecakapan pemimpin,” tegas Haidar Alwi.

Kiprah Dasco di Dunia Ekonomi Kreatif.

Satu candaan seharusnya tidak mengaburkan kontribusi panjang. Sufmi Dasco Ahmad bukan hanya tokoh politik, tapi juga aktor penting dalam penguatan sektor kreatif nasional.

Sebagai Ketua Dewan Penasehat Gekrafs, Dasco menjembatani komunitas kreatif dengan para pembuat kebijakan. Ia terlibat langsung dalam mendorong lahirnya regulasi dan program yang mendukung pelaku ekraf di daerah.

Gekrafs sendiri adalah organisasi raksasa yang merangkul 17 subsektor industri kreatif, dari film dan musik hingga teknologi digital dan kuliner.

Di bawah dukungan tokoh seperti Dasco, Gekrafs kini hadir di puluhan kabupaten/kota bahkan hingga luar negeri. Mereka tidak hanya bicara inovasi, tetapi juga membangun infrastruktur kolaborasi nyata.

Baca Juga :  Haidar Alwi Dukung Kesigapan Kapolri Mengusut Kasus Teror Tempo

Haidar Alwi menilai bahwa masyarakat harus lebih dewasa dalam menilai tokoh bangsa. Kita tidak bisa membiarkan kerja keras puluhan tahun dikerdilkan oleh satu baris kalimat yang bahkan tidak menyakiti siapa pun.

“Kalau bangsa ini ingin maju, maka kita harus belajar melihat tokoh dari kontribusinya, bukan dari satu candaan yang dipelintir keluar konteks,” tegas Haidar Alwi.

Demokrasi Tidak Butuh Sensasi.

Kita hidup di tengah ekosistem digital yang mendorong semuanya menjadi viral. Namun tidak semua yang viral itu penting. Tidak semua yang ramai itu benar.

Dalam demokrasi, kegaduhan bisa jadi berbahaya jika tidak berpijak pada substansi. Dan dalam kasus ini, substansi yang perlu dibicarakan justru luput: bagaimana Dasco dan Gekrafs membangun ekosistem ekonomi kreatif nasional.

Baca Juga :  Membaca Polemik Nasab, Klaim Pembatalan yang Cacat Metodologis

Haidar Alwi menekankan bahwa demokrasi yang terlalu mudah tersulut isu simbolik adalah demokrasi yang rentan. Bukan hanya rentan konflik, tetapi juga rentan kehilangan arah.

Sebab energi bangsa ini seharusnya digunakan untuk membahas isu-isu strategis: pendidikan, ketahanan pangan, transformasi digital, perlindungan pelaku usaha kecil, bukan candaan yang tidak melukai siapa pun.

Jika kita ingin mencerdaskan bangsa, maka kita harus berhenti menghakimi niat orang lain hanya dari cuplikan video. Kita perlu membangun ruang publik yang adil, yang menghormati kerja nyata, dan yang menilai tokoh berdasarkan dampaknya, bukan rumor.

Baca Juga :  Haidar Alwi Apresiasi Kinerja Bea Cukai di Bawah Komando Djaka Budhi Utama

Dalam konteks ini, Sufmi Dasco Ahmad adalah contoh tokoh yang justru memperkuat jembatan antarsektor, bukan menciptakan jurang.

“Candaan Dasco bukan ancaman. Yang lebih berbahaya adalah jika kita terus membiasakan diri menuduh tanpa memahami. Demokrasi harus memberi ruang untuk spontanitas, untuk humor, dan untuk percaya bahwa tidak semua hal perlu dipolitisasi,” pungkas Haidar Alwi.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 0 / 5. Vote count: 0

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *