“Apakah nilai ekspor yang bebas tarif sebanding dengan miliaran dolar uang rakyat yang dipakai untuk membeli produk mereka? Jika kita membeli pesawat, jagung, dan teknologi mereka, lalu produk kita tetap dikenai tarif, siapa sebenarnya yang menang?” ujar Haidar Alwi.
Ia juga menyoroti risiko jangka panjang: ketergantungan struktural pada pasar AS, ketimpangan neraca dagang, serta ancaman terhadap ketahanan pangan dan energi.
Apalagi, komoditas seperti pertanian dan energi adalah fondasi ekonomi rakyat kecil, bukan korporasi besar. Jika kita tidak segera membangun pertahanan ekonomi internal, maka bangsa ini hanya akan menjadi pasar konsumen dari kepentingan luar.
Safeguard Ekonomi: Jalan Menuju Kedaulatan.
Sebagai solusi, Haidar Alwi menyerukan pembentukan mekanisme safeguard nasional. Ini bukan sekadar instrumen teknis, tapi garis pertahanan bagi ekonomi rakyat.
Safeguard adalah bentuk keberanian politik untuk melindungi sektor strategis dari ancaman banjir impor.
Langkah-langkah konkret yang disarankan antara lain:
1. Regulasi selektif terhadap masuknya barang AS ke pasar strategis nasional, seperti pangan, pertanian, dan teknologi.
2. Kebijakan afirmatif untuk UMKM dan koperasi rakyat, agar tidak mati menghadapi produk murah dari luar negeri.
3. Penguatan ekosistem industri substitusi impor, dengan insentif teknologi dan pendanaan dari APBN.
4. Ketentuan belanja negara yang mewajibkan pemakaian produk dalam negeri, terutama untuk proyek-proyek pemerintah dan BUMN.
5. Audit nasional terhadap semua kesepakatan dagang, untuk memastikan tidak ada pasal-pasal tersembunyi yang merugikan kedaulatan negara.
Haidar Alwi menegaskan bahwa safeguard bukan berarti menutup diri dari perdagangan global. Safeguard adalah bentuk pertahanan, sebagaimana pagar rumah diperlukan bukan untuk memusuhi tetangga, tapi untuk melindungi keluarga sendiri.
Jangan Jadikan Diskon Tarif Sebagai Alat Menjual Negeri.
Tarif 19 persen bukan kemenangan jika dicapai dengan mengorbankan keseimbangan ekonomi nasional.
Haidar Alwi mengingatkan bahwa bangsa ini sudah terlalu lama tunduk pada tekanan ekonomi global yang dibungkus dalam retorika kerja sama.
Kini saatnya kita tidak sekadar menerima diskon tarif, tapi membangun keberanian untuk menyatakan batas dan syarat kita sendiri.
Haidar Alwi kembali mengingatkan bahwa ekonomi bukan sekadar angka, tapi tentang siapa yang dilindungi dan siapa yang dikorbankan. Dan dalam hal ini, rakyat harus selalu jadi prioritas pertama.
“Kalau dulu kita melawan tarif 32 persen dengan martabat, maka hari ini kita harus menjawab tarif 19 persen dengan kesadaran dan safeguard nasional. Jangan sampai diskon tarif membuat kita menjual terlalu banyak dari apa yang seharusnya kita jaga.” pungkas Haidar Alwi.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












