Ini bukan sekadar proyek pencitraan. Ini kerja keras yang menyelamatkan masa depan keluarga-keluarga yang kehilangan nafkah. Di Brebes dan Cirebon, misalnya, ribuan buruh terdampak telah mendapatkan penempatan kerja baru berkat intervensi Polri yang cepat dan sistematis.
“Ketika negara hadir melalui institusi kepolisian dan membawa perubahan nyata bagi buruh, maka kepercayaan publik akan tumbuh dari akarnya. Dan kepercayaan itu tak bisa dibeli, hanya bisa dibangun melalui tindakan,” kata Haidar Alwi.
*Pengakuan Dunia, Semangat Baru untuk Negeri.*
Penghargaan dari ITUC‑AP bukan hanya peristiwa penting bagi Kapolri, tetapi juga menjadi cermin bagi Indonesia. Sebab dunia tidak akan memberi apresiasi tanpa bukti nyata. Dan Kapolri telah memberikan bukti itu, bukan hanya kepada rakyat Indonesia, tetapi juga kepada komunitas internasional.
Presiden KSPSI, Andi Gani Nena Wea, bahkan menyebut penghargaan ini sebagai yang pertama kalinya dalam sejarah diberikan kepada kepala kepolisian oleh komunitas buruh dunia. Ini bukan hal biasa. Ini adalah pengakuan yang lahir dari jejak langkah konkret dan arah kebijakan yang tegas berpihak pada keadilan sosial.
“Kapolri telah membawa Polri ke panggung pengakuan internasional bukan karena popularitas, tetapi karena keberanian moral dan keberpihakan terhadap yang lemah. Ini langkah yang seharusnya menjadi teladan lintas sektor,” tegas Haidar Alwi lagi.
Dalam catatan Haidar Alwi Institute, konsistensi dan keberpihakan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam membela hak buruh dan membenahi wajah kepolisian telah menempatkannya sebagai Kapolri terbaik sepanjang masa versi Haidar Alwi Institute, bukan karena gelar, tetapi karena dedikasi dan keberaniannya menembus sekat-sekat birokrasi menuju kepemimpinan moral.
Harapan dari Rakyat, Bukan Tepuk Tangan Elit.
Bagi Haidar Alwi, nilai tertinggi dari sebuah penghargaan bukanlah plakat atau panggung seremoni, melainkan dampak nyata yang dirasakan rakyat kecil. Dan dalam hal ini, Kapolri telah menjawab harapan rakyat bukan dengan pidato, tetapi dengan sistem, komitmen, dan konsistensi.
Ia percaya, selama institusi Polri menjaga keberpihakan kepada mereka yang tertindas, maka penghormatan dari dunia hanyalah konsekuensi alamiah. Yang terpenting adalah menjaga nyala semangat ini agar tak padam oleh waktu, tekanan politik, atau pergantian kepemimpinan.
“Polri sedang berada di jalur yang benar. Jalur pengabdian, bukan sekadar kekuasaan. Dan di tengah gelombang zaman yang penuh gejolak, inilah pelabuhan kepercayaan yang sedang dibangun,” pungkas Haidar Alwi.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












