Setelah diisi, limbah tersebut perlu diberi desinfektan seperti tablet klorin atau kapur tohor.
Setelah itu, untuk air air bekas pencucian daging harus ditampung dalam septic tank yang dirancang agar tidak merembes dan memiliki jarak aman dari saluran pembuangan. Air ini juga perlu ditambahkan desinfektan untuk menjamin keamanan lingkungan.
“Sisa darah atau cairan dari area pemotongan harus dibersihkan menggunakan bahan penyerap seperti serbuk kayu, sekam padi, arang aktif, atau zeolit. Air yang sudah tidak bercampur darah dapat dimanfaatkan kembali, misalnya untuk menyiram tanaman,” Jelas, Ria.
Sementara untuk bagian tubuh hewan yang tidak dimanfaatkan pengelolaannya harus dilakukan secara bijak. Jika tersedia lahan dan jumlah hewan tidak banyak, sisa tersebut dapat ditimbun dalam tanah dengan tambahan disinfektan.
Alternatif lainnya adalah diolah menggunakan Maggot Black Soldier Fly. Jika jumlah hewan kurban banyak dan lokasi tidak memadai, sisa tubuh hewan harus diperlakukan sebagai limbah padat organik khusus karena berpotensi mengandung patogen.
Limbah ini harus dipisahkan dari sampah organik biasa dan sampah non-organik, lalu dimusnahkan melalui proses insinerasi.Terakhir, konsumsi makanan saat kurban juga perlu dikelola agar tidak menambah timbunan sampah.
Disarankan untuk memasak sesuai kebutuhan dan menerapkan konsep prasmanan agar mengambil mencegah sisa makanan berlebih.
“Eco Qurban juga mendorong penggunaan kemasan ramah lingkungan untuk pembagian daging. Gunakan wadah guna ulang seperti besek bambu, daun pisang, atau wadah makanan guna ulang pribadi daripada plastik sekali pakai,” tuturnya.
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga akan menyelenggarakan lomba kampanye media sosial Eco Qurban berkolaborasi dengan Tunas Muda Care (T. Care) dalam rangka menjaga lingkungan dengan praktik pengelolaan limbah kurban yang ramah lingkungan, serta mengurangi timbulan sampah. (dmn)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












