Dalam rapat tersebut, Nevi juga meminta kepastian dari para pemegang saham IBC mengenai komitmen investasi jangka panjang dan strategi percepatan pembangunan pabrik baterai terintegrasi dengan target kapasitas 15 GWh. Ia menegaskan pentingnya alih teknologi, pendanaan memadai, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten untuk menjamin keberlanjutan industri baterai EV di Indonesia.
“Komitmen pemilik saham dan mitra, khususnya dari luar negeri, harus jelas. Kita tidak boleh hanya menjadi penyedia bahan baku, tetapi juga harus menguasai teknologi dan proses produksi baterai EV dari hulu ke hilir,” tegas aktivis perempuan PKS tersebut.
Sebagai langkah konkret, Nevi mendorong kolaborasi antara BUMN dan Kementerian Investasi untuk menarik investasi asing. Menurutnya, pendanaan dari luar negeri dapat mempercepat pengembangan proyek strategis, mendukung transfer teknologi, serta memperkuat posisi Indonesia dalam industri baterai global.
“Saya berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat bekerja sama untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri baterai global, sejalan dengan visi transisi energi yang berkelanjutan dan ketahanan energi nasional,” tutup Nevi Zuairina.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












