Oleh: IR. R HAIDAR ALWI. (Pemikir Bangsa/Dewan Pembina Ikatan Keluarga Alumni ITB)
PEMERINTAH memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga Lebaran, meskipun harga minyak dunia terus merangkak naik.
Di tengah meningkatnya biaya hidup dan tekanan ekonomi global, pemerintah ingin memastikan masyarakat bisa menjalani Ramadan dan Lebaran tanpa tambahan beban.
Namun, kebijakan menunda kenaikan harga BBM hingga setelah Lebaran justru berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang lebih terasa bagi masyarakat.
Penundaan ini tidak menghilangkan tekanan biaya energi, melainkan hanya memindahkan momentum guncangan ke waktu ketika kondisi keuangan masyarakat justru sedang paling rapuh.
Lebaran adalah periode pengeluaran terbesar dalam siklus ekonomi rumah tangga Indonesia. Pada momen ini masyarakat mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari mudik, konsumsi makanan, pakaian baru, hingga berbagai kewajiban sosial kepada keluarga.
Bahkan bagi banyak pekerja, Tunjangan Hari Raya yang diterima sering kali habis dalam waktu singkat karena tingginya biaya perjalanan dan kebutuhan konsumsi.
Akibatnya, setelah Lebaran sebagian besar rumah tangga memasuki fase pemulihan keuangan. Tabungan menipis, pengeluaran sudah tinggi, sementara pendapatan berikutnya belum sepenuhnya menutup biaya yang telah dikeluarkan selama musim libur.
Dalam kondisi seperti ini, kenaikan harga BBM akan terasa jauh lebih berat dibandingkan jika terjadi pada periode normal.
Dampak kenaikan BBM juga tidak berhenti pada harga bahan bakar itu sendiri. Efek terbesarnya justru muncul melalui rantai distribusi ekonomi. Biaya transportasi meningkat, ongkos logistik naik, dan pelaku usaha mulai menyesuaikan harga barang. Dalam waktu singkat, harga kebutuhan pokok ikut terdorong naik.
Jika kenaikan BBM dilakukan setelah Lebaran, maka efek domino tersebut akan terjadi pada saat konsumsi masyarakat mulai kembali normal.
Rumah tangga yang baru saja menghabiskan sebagian besar pengeluarannya akan langsung menghadapi kenaikan biaya hidup sehari-hari. Ini menciptakan tekanan ganda terhadap daya beli.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed








