Selain aspek pendanaan dan bahan baku, Nevi turut memberikan perhatian pada sektor energi. Ia menilai keberlangsungan industri alumina dan aluminium sangat bergantung pada jaminan pasokan listrik yang stabil selama 24 jam dengan tarif kompetitif agar produk nasional mampu bersaing di pasar global.
“Ketika industri sudah berjalan, listrik tidak boleh menjadi titik lemah. Pasokan energi harus pasti, berkelanjutan, dan mendukung efisiensi biaya produksi,” tambahnya.
Tak hanya itu, Nevi juga mendorong pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, khususnya terkait limbah red mud, serta percepatan transfer teknologi agar tenaga kerja Indonesia mampu menjadi operator utama dalam industri pengolahan mineral strategis tersebut.
Lebih jauh, ia menilai Kalimantan Barat memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan kawasan industri aluminium terpadu yang melibatkan UMKM, tenaga kerja lokal, serta sektor pendukung lainnya.
Di akhir pernyataannya, Nevi mengajak semua pihak menjadikan proyek SGAR sebagai momentum besar bagi kemandirian industri nasional.
“Kita tidak boleh berhenti di alumina. Target akhirnya adalah industri aluminium nasional yang kuat, mandiri, dan mampu menjadi bagian dari rantai pasok global, termasuk untuk kebutuhan energi masa depan dan kendaraan listrik,” tutup Nevi Zuairina.(Ridwan/*)
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












