Rocky juga memperingatkan adanya potensi creeping authoritarianism atau otoritarianisme yang merangkak naik. Menurutnya, satu-satunya cara untuk menghalangi hal tersebut adalah dengan menghidupkan kembali “Komunitas Epistemik”—kelompok masyarakat yang mendasarkan tindakannya pada kebenaran rasional dan argumentasi ilmiah.
“Mem-back up negeri ini dengan ide dan pikiran dimaksudkan untuk mengembalikan nalar publik menjadi grammar of the town (bahasa sehari-hari warga). Itu pentingnya oposisi, itu pentingnya Jogja tetap kritis,” tambahnya.
Respon Peserta: Antara Harapan dan Skeptisisme
Pernyataan Rocky ini seolah menjadi jawaban atas keresahan yang disampaikan penanggap dari kalangan pelajar. Otniel Rahadianta dari Forum Komunikasi Pengurus OSIS Yogyakarta sebelumnya mengeluhkan betapa kaku dan bungkamnya sistem pendidikan saat ini terhadap ide-ide baru anak muda.
Menanggapi hal itu, Rocky mengajak generasi muda Jogja untuk tidak takut dicap subversif jika itu demi mempertahankan hak atas pikiran mereka.
“Kalau universitas marah, kanalisasinya apa? Pasti demonstrasi. Jadi kalau pemerintah menganggap demonstrasi berbahaya, lho mereka sendiri yang menciptakan kondisi sehingga hanya demonstrasi yang bisa menjadi bentuk partisipasi generasi,” tegasnya.
Acara yang dipandu oleh Aryo Seno Bagaskoro ini ditutup dengan harapan besar agar spirit “Anti-Kandang Gajah” ini terus diseminasi ke kampus-kampus lain di seluruh Indonesia, menjadikan Yogyakarta sebagai episentrum perlawanan intelektual terhadap pragmatisme politik.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












