YOGYAKARTA, OTONOMINEWS.ID – “Jogja adalah sebuah Community of Thought (Komunitas Berpikir) yang tidak boleh tunduk pada desain politik yang hanya mengandalkan elektabilitas tanpa intelektualitas.”
Pengamat politik dan filsuf Rocky Gerung memberikan pernyataan yang membakar semangat ratusan intelektual muda di Yogyakarta. Dalam acara Public Lecture Series 002 yang diinisiasi oleh wadah Pandu Negeri, Rocky menegaskan bahwa Yogyakarta harus tetap menjadi benteng terakhir akal sehat dan menolak menjadi “Kandang Gajah” bagi para pemburu kekuasaan pragmatis.
Berbicara di hadapan mahasiswa, aktivis, dan akademisi di kawasan Embung Giwangan, Rocky menyebut Yogyakarta sebagai daerah yang memiliki “imunitas” terhadap pendangkalan intelektual.
Bagi Rocky Gerung, Jogja adalah sebuah Community of Thought (Komunitas Berpikir) yang tidak boleh tunduk pada desain politik yang hanya mengandalkan elektabilitas tanpa intelektualitas.
“Jogja ini adalah tempat di mana orang datang untuk bertengkar secara akademis. Jangan sampai ruang ini dirampas oleh makhluk-makhluk pragmatis dan rakus yang ingin merampas hak generasi,” tegas Rocky, Senin (18/2/2026).
Metafora “Kandang Gajah” yang dilemparkan Rocky merujuk pada kekhawatiran akan dominasi kekuatan besar atau elit politik yang mencoba menjinakkan nalar kritis masyarakat Yogyakarta demi kepentingan kekuasaan sesaat.
Dalam orasi yang penuh gaya akrobatik berpikir itu, Rocky juga menyentil kondisi pendidikan tinggi saat ini. Ia menilai banyak institusi yang terjebak dalam formalitas gelar namun kehilangan substansi nilai.
“Kita hari ini mengalami surplus ijazah, tapi defisit value. Banyak lulusan S3 akhirnya hanya jadi supir ojek karena negara tidak mampu menyediakan ruang bagi pikiran mereka. Kenapa? Karena struktur teknokratis kita lebih banyak dikuasai oleh para dealer (pedagang kekuasaan), bukan leader,” sindir Rocky disambut tepuk tangan riuh.
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












