Biijana Paksi Sitengsu jadi Blueprint Nasional Pengelolaan MBG Berbasis Kearifan Lokal dan Lumbung Pangan Nasional

Otonominews
Biijana Paksi Sitengsu jadi Blueprint Nasional Pengelolaan MBG Berbasis Kearifan Lokal dan Lumbung Pangan Nasional
120x600
a

YOGYAKARTA, OTONOMINEWS.IDDaerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah bersiap menjadi motor penggerak ketahanan pangan nasional. Provinsi ini dipilih sebagai lokasi percontohan (pilot project) penerapan model Lumbung Mataraman yang terintegrasi dengan Food Processing Hub dan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

​Langkah strategis ini dirancang khusus untuk memperkuat sistem pangan lokal guna mendukung kesuksesan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi fokus pemerintah.

​Model Lumbung Mataraman bukan sekadar konsep penyimpanan pangan biasa. Ini adalah ekosistem terpadu yang memangkas rantai pasok yang selama ini dinilai terlalu panjang.

RM Wahyono Bimarso dari Yayasan Bijana Paksi Sitengsu yang juga Sampeyan Dalem Sultan Hamengku Buwono I, menjelaskan bahwa dalam skema ini, bahan pangan hasil keringat petani lokal dan kelompok usaha desa akan dikonsolidasikan di Lumbung Mataraman. Setelah itu, bahan baku masuk ke tahap pengolahan awal di food processing hub sebelum akhirnya didistribusikan secara terjadwal ke dapur SPPG.

Baca Juga :  Soroti Besarnya Anggaran BGN, Komisi IX DPR Usul Bentuk Timwas MBG

​“Fokusnya adalah membangun sistem pangan yang rapi dari hulu ke hilir, berbasis potensi lokal, dan mendukung keberlanjutan dapur gizi publik,” ujar RM Wahyono. BImarso

​Penerapan model ini, kata RM Wahyono Bimarso, membawa sejumlah dampak positif bagi stabilitas ekonomi dan kesehatan masyarakat, di antaranya efisiensi Distribusi, dimana memperpendek jarak antara produsen (petani) dan konsumen (dapur gizi). Kemudian mengenai Stabilitas Harga, yakni mengurangi ketergantungan pada tengkulak sehingga harga bahan baku lebih terkendali.

Baca Juga :  SEMAI Luncurkan Program Hambalang Mengajar dan MBG Guna Mendukung Indonesia Emas 2045

Selain itu, Jaminan mutu yang memastikan standar keamanan pangan tetap terjaga melalui proses di processing hub. Kemudian Pemberdayaan Desa dengan menempatkan BUMDes, koperasi, dan UMKM sebagai aktor utama ekonomi pangan.

RM Wahyono Bimarso berharap inovasi kreatif ini menjadi ruang pembelajaran kolektif bagi pemerintah dan pelaku usaha. Selain memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi berkualitas, proyek ini bertujuan memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat pedesaan.

Baca Juga :  Program MBG Hamburkan APBN, Teuku Afriadi: Memicu Masalah untuk Proyek Populis

​“Uji coba ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran bersama, baik bagi pemerintah, pelaku usaha desa, maupun mitra pengelola dapur SPPG, sebelum diterapkan lebih luas. Rencana pembangunan di 15 titik di Kabupaten Gunungkidul sebagai Prototype atau pilot project,” tambah RM Wahyono.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 5 / 5. Vote count: 1

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *