Ia juga menekankan pentingnya nilai IPK — Integritas, Profesionalitas, dan Karakter — sebagai fondasi utama mahasiswa. Menurutnya, perguruan tinggi harus melahirkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri dan mampu memberi dampak nyata bagi pembangunan nasional.
Dalam kesempatan yang sama, CEO Laznas YAKESMA, Dr. Romdlon Hidayat, menyampaikan kuliah umum bertema Filantropi Syariah, Kemanusiaan, dan Pembangunan di hadapan mahasiswa dan dosen.
Ia memaparkan transformasi filantropi Islam di Indonesia yang kini berkembang menjadi instrumen pembangunan yang profesional dan terorganisasi. Pertumbuhan sektor ini pada 2024 didorong oleh digitalisasi penghimpunan dana serta meningkatnya partisipasi korporasi.
Menurutnya, penguatan tata kelola yang transparan, inovasi digital, dan pengembangan program pemberdayaan produktif seperti Green Zakat menjadi kunci menciptakan dampak sosial yang terukur.
“Dengan sinergi kebijakan, integrasi data nasional, dan profesionalisme SDM, zakat dapat menjadi katalisator ketahanan sosial dan ekonomi. Target penghimpunan Rp100 triliun pada 2030 bukan hal yang mustahil,” jelasnya.
Ia menambahkan, visi besar filantropi syariah adalah mendorong transformasi mustahik menjadi muzakki agar tercipta siklus pemberdayaan yang berkelanjutan.
Peresmian gedung baru ini diharapkan menjadi tonggak sinergi antara akademisi, pemerintah, dan lembaga filantropi dalam membangun ekosistem ekonomi syariah yang inklusif dan berkeadilan. Gedung tersebut bukan sekadar infrastruktur, melainkan simbol komitmen mencetak generasi berintegritas dan profesional yang siap menjawab tantangan zaman.[bal]
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed












