Lebih jauh lagi, Polri sebenarnya berfungsi sebagai penguji realitas kebijakan. Di lapangan, polisi melihat langsung apakah sebuah program diterima, dipahami, atau justru ditolak secara diam-diam.
“Mereka menyaksikan resistensi kecil yang tak pernah masuk laporan resmi, mendengar keluhan yang tak pernah sampai ke meja menteri.”
Dalam arti ini, Polri bukan hanya pelaksana, melainkan sensor awal program pemerintah. Sayangnya, sinyal ini sering diabaikan oleh institusi lain sampai konflik meledak dan negara panik.
Ada kecenderungan berbahaya dalam cara kita memaknai keberhasilan. Program dianggap sukses selama tidak menimbulkan kegaduhan besar.
Ketertiban dijadikan indikator keberhasilan, tanpa bertanya bagaimana memproduksinya dan siapa yang menanggung bebannya.
Polri pada akhirnya memikul beban ganda. Program berjalan sekaligus menahan dampak sosial dari kebijakan yang tidak selalu matang. Ketika rakyat marah, polisi yang menghadapi; ketika negara dikritik, polisi yang dihujat.
Maka, menyebut Polri sebagai ujung tombak keberhasilan program pemerintah bukan pujian kosong, tetapi pengakuan atas fakta yang sering disangkal. Tanpa kerja mereka, banyak program hanya akan menjadi tabel dan diagram.
Namun pengakuan ini juga membawa konsekuensi serius. Jika Polri memang menjadi penentu apakah program hidup atau mati di lapangan, maka mereka tidak boleh dianggap hanya sebagai alat pemadam kebakaran masalah kebijakan yang gagal dirancang.
Negara harus jujur pada dirinya sendiri. Keberhasilan program pemerintah tidak bisa terus-menerus ditopang oleh kerja senyap aparat keamanan, sementara kegagalannya dibebankan kepada mereka pula.
Jika Polri terus dijadikan fondasi tak terlihat sebagai statistik keberhasilan, maka kritik terhadap program pemerintah seharusnya juga dimulai dari pertanyaan apakah negara merancang kebijakan yang layak dijalankan di lapangan, atau hanya nyaman dipresentasikan di atas kertas.
Pada akhirnya, statistik tanpa kenyataan adalah ilusi. Dan kenyataan tanpa kehadiran negara adalah kekacauan. Di antara keduanya, Polri berdiri sebagai jembatan yang sering dilupakan.
Polri memastikan angka-angka itu memiliki makna, dan memastikan negara benar-benar hadir, bukan hanya terlihat berhasil dalam laporan.
Jakarta, 31 Januari 2026
Ikuti terus update berita Otonominews di Feed









