Sikap dan Positioning Indonesia di Kancah Dunia Harus Diubah Demi Kepentingan Nasional dan Rakyat!

Otonominews
Sikap dan Positioning Indonesia di Kancah Dunia Harus Diubah Demi Kepentingan Nasional dan Rakyat!
Ir. R Haidar Alwi, MT.
120x600
a

JAKARTA, OTONOMINEWS.ID Pemikir Bangsa dan Dewan Pembina Ikatan Keluarga Alumni ITB, Ir. R Haidar Alwi mengatakan Indonesia sudah saatnya berhenti mengalah di kancah global.

Haidar menegaskan bahwa Indonesia bukan negara kecil. Pasar domestik yang besar, sumber daya melimpah, dan kontribusi ekonomi yang konsisten menjadikan Indonesia selalu diperhitungkan secara angka.

Haidar pun mengemukakan satu pertanyaan mendasar jarang diajukan secara jujur: mengapa peran besar itu belum sepenuhnya berbuah posisi tawar yang setara?

Dalam perdagangan internasional, Indonesia kerap menjadi pasar, bukan penentu standar. Dalam sistem pembayaran lintas negara, Indonesia hadir sebagai pengguna, bukan pembentuk arsitektur.

Indonesia sering berhenti sebagai pemasok bahan mentah atau konsumen akhir, sementara nilai tambah dan kendali merek berada di luar.

Pola ini berulang di banyak sektor dan membentuk kesan yang sama: Indonesia penting, tetapi belum menentukan.

Baca Juga :  Haidar Alwi: Kenaikan Anggaran Polri Sudah Wajar dan Jangan Dipersoalkan

Menurut Haidar, persoalan ini tidak bisa dibaca semata sebagai sikap pihak luar. Akar masalahnya justru terletak pada cara Indonesia memosisikan dirinya sendiri dalam hubungan internasional.

“Dalam hubungan internasional, kepercayaan tidak lahir dari jumlah semata. Ia tumbuh dari konsistensi sikap negara dalam menjaga kepentingannya dan melindungi warganya,” ujar Haidar Alwi.

Di sinilah persoalan inti itu terlihat jelas, Haidar menilai Indonesia terlalu sering berperan besar, tetapi terlalu jarang menautkan peran tersebut dengan keberanian menentukan arah.

Kontribusi Besar, Kepercayaan yang Belum Setara.

Pola global tersebut tampak nyata ketika ditarik ke contoh yang lebih konkret. Dalam ekosistem ibadah haji dan umrah, Indonesia adalah penyumbang jemaah terbesar di dunia.

Setiap tahun, aliran dana yang sangat besar bergerak dari Indonesia melalui transportasi, akomodasi, logistik, dan jasa pendukung. Secara ekonomi, Indonesia adalah aktor utama.

Baca Juga :  Haidar Alwi: Bangkitkan Ekonomi Indonesia dari Perut Bumi Sendiri

Namun besarnya peran itu belum sepenuhnya diikuti dengan kepercayaan yang setara. Penggunaan produk Indonesia dalam rantai pasok masih terbatas, adopsi sistem pembayaran nasional belum menjadi arus utama, dan perlindungan pekerja migran sering kali baru bergerak setelah persoalan muncul.

Ketimpangan ini mencerminkan jarak antara kontribusi dan posisi tawar, termasuk dalam relasi dengan mitra utama seperti Arab Saudi.

Kejujuran perlu ditegakkan. Masalahnya bukan semata berada di luar negeri. Indonesia terlalu lama merasa cukup menjadi penyumbang terbesar, tanpa menautkan kontribusi tersebut dengan tuntutan timbal balik yang adil dan terukur.

Pasar Besar, Namun Belum Menjadi Penentu.

Apa yang terlihat dalam haji dan umrah sejatinya mencerminkan pola yang lebih luas. Indonesia adalah salah satu pasar konsumen terbesar di dunia.

Populasi besar dan kelas menengah yang tumbuh menjadikan Indonesia sasaran utama produk global, mulai dari pangan hingga teknologi. Namun besarnya pasar ini belum sepenuhnya dikonversi menjadi kekuatan negosiasi.

Baca Juga :  Haidar Alwi Apresiasi Satgassus Bentukan Kapolri: Menjaga Kedaulatan Fiskal

Produk global masuk dengan standar mereka sendiri, sementara produk Indonesia masih menghadapi hambatan menembus pasar internasional. Branding dan nilai tambah berjalan satu arah.

Indonesia lebih sering menjadi objek pemasaran, bukan subjek yang menentukan arah. Situasi serupa terlihat pada sistem pembayaran lintas negara, di mana sistem nasional jarang menjadi rujukan meski volume pengguna sangat besar.

Klik bintang 5 untuk rating!

Rating rata-rata 3 / 5. Vote count: 1

Ikuti terus update berita Otonominews di Feed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *